Umat Islam Diminta Tak Terpancing Isu SARA

Kompas.com - 06/02/2009, 21:23 WIB

MEDAN, JUMAT - Forum Umat Islam Bersatu menyerukan kepada umat Islam di Sumatera Utara tidak terpancing dengan isu yang menyebabkan konflik bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan, menyusul meninggalnya Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara Abdul Azis Angkat dalam unjuk rasa pembentukan Provinsi Tapanuli.

Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) terdiri dari berbagai elemen organisasi massa Islam seperti Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam, Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam, Gerakan Pemuda Anshor, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Badan Komu nikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia, Ikatan Dai Indonesia, Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia , GP Alwashliyah dan beberapa partai politik Islam, dalam pernyataan sikapnya menyesalkan tindakan anarkis massa yang mengatasnamakan pendukung pembentukan Provinsi Tapanuli, sehingga mengakibatkan Ketua DPRD Sumut meninggal dunia.

Kami menuntut kepolisian segera membubarkan panitia pembentukan Provinsi Tapanuli karena terbukti bertanggung jawab atas aksi anarkis yang terjadi, ujar Koordinator Aksi FUIB Agus Budiarto di Medan, Jumat (6/2).

FUIB juga mengharapkan seluruh umat Islam di Sumut tidak terpancing dan bersikap reaksioner sehingga bisa menyebabkan konflik bernuansa SARA. "Umat Islam jangan sampai bertindak anarkis. Islam harus menjadi rahmatan lil alamin," katanya.

Menurut Wakil Ketua DPRD Hasbullah Hadi, DPRD sudah sepakat tak akan membahas lagi pembentukan Provinsi Tapanuli. DPRD juga telah membentuk panitia khusus untuk menyelidiki insiden pada tanggal 3 Februari yang didalangi oleh orang-orang yang duduk sebagai panitia pembentukan Provinsi Tapanuli, katanya.

Pada hari yang sama, tim pencari fakta dari Komisi III DPR juga melihat langsung gedung DPRD Sumut yang beberapa ruangannya rusak dihancurkan massa . Ketua tim pencari fakta Komisi III DPR Maisyasyak Johan mengatakan, Komisi III DPR tengah mendalami fakta-fakta seputar demonstrasi anarkis pembentukan Provinsi Tapanuli. Kami ingin melihat langsung bagaimana prosedur standar pengamanan aparat terhadap penyelenggara negara. "Seperti diketahui, demonstrasi serupa sebenarnya terjadi tahun 2007. Kenapa tidak belajar dari kejadian yang sama," ujarnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau