Yogyakarta Kembangkan Jarak Pagar

Kompas.com - 07/02/2009, 09:47 WIB

YOGYAKARTA, SABTU — Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejak 2006 mengembangkan program tanaman jarak pagar (Jatropha curcas) sebagai upaya mencari sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM).
     
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Provinsi DIY Ir Achmad Dawam di Yogyakarta, Sabtu, mengatakan program pengembangan tanaman jarak pagar tersebut sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 2006 sehingga pihaknya segera merealisasi program ini dengan menggalakkan penanamannya di beberapa wilayah di provinsi ini.
     
"Dishutbun Provinsi DIY telah mengembangkan tanaman jarak pagar dengan membangun kebun induk seluas 215 hektare, dan penanaman di lahan petani seluas 438,6 hektare yang tersebar di wilayah Kabupaten Bantul 101 hektare, Gunungkidul 175 hektare, Kulonprogo 90,2 hektare, dan Kabupaten Sleman 69,6 hektare," katanya.
     
Menurut dia, sebelumnya untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan tersebut, diadakan pelatihan petugas yang diikuti 20 orang, disusul kemudian pelatihan petani 250 orang melalui dana APBD dan APBN.
     
Sampai saat ini pertumbuhan perkembangan tanaman jarak pagar dan animo masyarakat dalam pemeliharaan tanaman itu cukup baik. "Selain itu, program tersebut memperoleh dukungan dari berbagai pihak termasuk peran perusahaan mitra di antaranya PT Enhill, PT Titan Bio Energy, PT Pura Jatropha Mandiri dan Pusat Kajian Agribisnis Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta," katanya.
     
Ia mengatakan peran sejumlah perusahaan dan perguruan tinggi sebagai mitra program ini, di antaranya dengan memberikan informasi pasar maupun rencana kerja sama kemitraan yang direspons petani.    
     
Namun, ada beberapa kendala yang dihadapi di antaranya belum tersedianya bibit unggul secara genetik, alat pengolah minyak biji jarak belum memuaskan, dan harga biji jarak belum memadai.
     
"Untuk keberhasilan program pengembangan tanaman jarak pagar di wilayah Provinsi DIY diperlukan penataan dan perbaikan sarana, prasarana serta penanganan manajemen usaha tani secara professional," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau