Kanker pada Anak Bisa Disembuhkan

Kompas.com - 08/02/2009, 16:25 WIB

JAKARTA, MINGGU - Penyakit kanker yang diderita oleh seorang anak tidak menular dan bisa disembuhkan jika dideteksi secara dini dan memperoleh penanganan serta perawatan yang intensif.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Pinta Manullang di Jakarta, Minggu (8/2).

Untuk memperingati hari Kanker Anak Internasional yang jatuh pada tanggal 15 Februari 2009, YKAKI sebagai salah satu anggota International Confederation of Childhood Cancer Parents Organisations (ICCCPO) pada hari Minggu meyelenggarakan kegiatan bertajuk It's a Family Day: Fun with Clay and Fun Games: Together We can.

Acara berkreasi dengan keramik dilakukan YKAKI bekerjasama dengan F Widayanto dan PT Kharisma Tembikar dengan 50 anak penderita kanker serta 150 anak dari sekolah swasta/internasional. "Bersama Kita Bisa ini untuk memberikan yang terbaik bagi anak penderita kanker yang masih dalam perawatan atau pengobatan," kata Mardi Santosa, Ketua Penyelenggara Acara bermain dengan keramik tersebut. Selain bermain keramik, anak-anak penderita kanker juga berbaur dengan murid-murid dari sekolah lain.

Menurut data statistik dari International Agency for Research on Cancer (IARC), satu dari 600 anak akan menderita kanker sebelum usia 16 tahun. Kanker pada anak merupakan masalah yang kompleks mengingat perawatan dan pengobatannya melibatkan selain orangtua, tenaga profesional dan tak kalah penting adalah keluarga besar, sekolah dan lingkungan turut berperan.

YKAKI melalui program jangka panjangnya seperti 'Rumah Kita' mendukung anak-anak penderita kanker dari keluarga yang kurang mampu dengan menyediakan sarana tempat tinggal sementara bagi anak-anak tersebut dan keluarganya yang sedang dalam rawat inap maupun rawat jalan.

Program 'Sekolahku' memberi dukungan pendidikan bagi anak-anak yang sedang dirawat inap karena pengobatan kanker memakan waktu 3 bulan hingga 2 tahun yang berlanjut dengan pengobatan perawatan selama 5 bulan-2 tahun.

Muhammad Fajar (7,5) sebagai contoh, siswa SDN 14 Pagi Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, terpaksa berhenti sekolah karena menjalani kemoterapi setiap minggu berikut pengobatannya. Mimih Humaema (32), ibu Fajar menuturkan, Fajar baru diketahui menderita kanker darah (Leukimia) saat masuk SD kelas 1. "Dia lemas, pucat, kurus dan waktu diperiksa di Puskesmas lalu dirujuk ke RSCM ternyata dia sakit kanker darah," kata Mimih. Sejak Juni 2008, Fajar menjalani kemoterapi secara gratis di RSCM dengan menggunakan kartu Keluarga Miskin.

Sama seperti Fajar, Umi Salamah (7 tahun, 8 bulan) juga menderita Leukimia. Rambut Umi sampai rontok karena kemoterapi yang ia jalani sejak pertengahan 2008. "Biaya kemonya saya bayar 25 persen dengan surat keterangan tidak mampu," kata Memes, ibu Umi Salamah. Ia berharap Umi bisa sehat dan tak perlu dikemo lagi.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau