Wapres: Shell Siap Pindahkan Pengolahan dari Singapura ke Indonesia

Kompas.com - 08/02/2009, 19:03 WIB

Laporan Wartawan Kompas Suhartono

DEN HAAG, MINGGU - Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menyatakan perusahaan eksplorasi minyak dan gas asal Belanda Shell, siap tidak hanya berinvestasi di sisi hilir saja seperti memperbanyak pompa bensin di Indonesia.

Akan tetapi juga masuk berinvestasi lebih jauh besar lagi di sisi hulu atau eksplorasi dan proses pengolahan minyak mentah (refinery). Termasuk memindahkan penambahan fasilitas pengolahan minyak mentah dan gas milik Shell yang akan dibangun dari Singapura ke kawasan Bintan dan Karimun.

Demikian disampaikan Wapres Kalla, saat ditanya pers, seusai meninjau Pelabuhan Rotterdam, Belanda, dengan kapal fery Abel Tasman, Minggu (8/2) siang waktu setempat di Den Haag, Belanda.

Sebelumnya, Sabtu malam minggu, Wapres Kalla dijamu makan malam oleh Menteri Ekonomi Belanda Maria Van De Houven dan sejumlah perusahaan Belanda yang berinvestasi di Indonesia di antaranya Shell.

Hadir dalam jamuan santap malama itu CEO Royal Dutch Shell Van Der Veer dan CEO Shell Nederland BV De Wit. Wapres Kalla didampingi oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Lutfie, Seswapres Tursandi Alwi dan Duta Besar RI untuk Belanda JE Habibie.

"Mereka memang kita minta untuk masuk juga di refinery dan mereka siap. Shell, kan, sudah, masuk paling banyak di hilir seperti di pompa bensin. Begitu juga Shell sudah masuk di hulu seperti eksplorasi. Karena itu, sekarang kita minta agar Shell juga masuk ke pengolahan minyak mentah sehingga ada nilai lebih bagi investasinya di Indonesia,"tandas Wapres Kalla.

Menurut Wapres Kalla, apabila Shell masuk ke proses pengolahan minyak mentah juga, maka investasi Shell akan lebih besar lagi di sisi hilir, hulu dan pengolahan. "Namun, Pertamina harus tetap memegang peranan yang besar dan perusahaan lain hanya mitranya saja," tambah Wapres Kalla.

Sebelumnya, Lutfie mengatakan, Shell memang diminta untuk masuk ke sisi pengolahan minyak mentah juga. "Kalau cuma eksplorasi dan buka pompa bensin, itu sama saja dengan Exxon. Dan, itu tidak menarik bagi investasi kita. Akan tetapi, Shell harus masuk ke pengolahan dengan memindahkan fasilitas refinery mereka yang akan diperbesar di Singapura ke Indonesia," ujar Lutfie.

Menurut Lutfie, tambahan fasilitas pengolahan minyak mentah itu bisa dipindahkan ke kawasan perairan Pulau Bintan dan Karimun di mana Indonesia memiliki zona ekonomi khusus Indonesia (KEKI) di Pulau Batam dan sekitarnya yang letaknya hanya 20 kilometer dengan Singapura.

"Kalau Shell memindahkan, kita tidakjual minyak mentah lagi, akan tetapi barang setengah jadi. Keuntungan lainnya, untuk memproduksi 330.000 barrel per hari, Shell akan bisa menciptakan 42 sektor turunan usaha baru mulai dari pusat petrochemia sampai dengan usaha kecil menengah. Juga akan menciptakan sekitar 930.000 lapangan kerja baru dan investasi lebih dari 5 miliar dollar AS," jelas Lutfie lagi.

Lutfie menambahkan, Van Der Veer menyatakan minatnya dengan tawaran pemerintah Indonesia tersebut. Namun, Van Der Veer akan mempelajarinya lebih lanjut lagi tawaran.

Sebagaimana diberitakan, Shell merupakan salah satu calon partner Pertamina yang akan ikut mengelola Blok Natuna D Alpa di antara tiga calon partner lainnya, yaitu ExxonMobile dan dua perusahaan migas lainnya asal Eropa (State Oil) dan Asia (CINOC). Nilai investasi di Blok Natuna D Apha senilai 36 miliar dollar AS.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau