Nelayan Asal Bawean Dirawat di RSUD Ibnu Sina

Kompas.com - 08/02/2009, 21:28 WIB

GRESIK, MINGGU - Nelayan asal Bawean Choirul Anwar (34) yang dilaporkan hilang sejak 4 Februari lalu berhasil diselamatkan kapal Oval OC berbendera Australia. Kapal tersebut Minggu (8/2) mengantar korban hingga dermaga milik PT Petrokimia Gresik, selanjutn ya korban dijemput kapal Polisi 02.

Kepala Satuan Polisi Air Gresik Inspektur Satu Bintara menyatakan korban dinyatakan hilang di perairan Bawean saat tinggi gelombang mencapai 7 meter. Choirul Anwar ditemukan di zona perairan internasonal, tepatnya disekitar 2 mil dari Karang Jamuang. Choi rul berangkat melaut untuk mencari kerang pukul 10.00 pada 4 Fabruari lalu. Namun kurang lebih berlayar dua mil, cuaca memburuk ombak tinggi. Choirul berupaya kembali tetapi perahunya diempas ombak hingga terbalik lalu tenggelam.

Choirul Anwar diantarkan kapal berbendera Australia ke dermaga milik PT Petrokimia Gresik Minggu (8/2) sekitar pukul 15.20 selanjutnya dibawa ke RSUD Ibnu Sina Gresik untuk menjalani perawatan. Turut menjemput korban Sekretaris Kabupaten Gresik Husnul Khu luq, Humas Administratur Pelabuhan Gresik, Pudiasto Nugroho dan Kepala Kesatuan Pelayanan dan Pengamanan Pelabuhan (KP3) Gresik Ajun Komisaris Hariani. "Korban secara fisik segar bugar, namun tetap dibawa ke rumah sakit untuk memulihkan depresi dan trauma yang dialami," kata Bintara dihubungi via telepon selulernya.

Sebelumnya Jajaran KRI Teluk Kupang yang berupaya menjemput Choirul dari kapal berbendera Australia kandas perairan Pulau Buymuli. KRI Teluk Kupang diterjang ombak sehingga lambung kapal kemasukan air. Kapten Suyadi dengan 16 awak kapal berupaya mencari t empat dangkal tetapi kandas. KRI Teluk Kupang diselamatkan KRI Slamet Riyadi dan ditarik ke Pangarmatim.

Sementara itu dua nelayan Lamongan Miftahul Arif (19) warga Blimbing dan Febriyanto (25) warga Paciran yang dikabarkan hilang hingga kini belum ditemukan. Keduanya diperkirakan terdampar di Pulau Sapeken Kangean. Pencarian tidak bisa dilanjutkan karena om bak di sekitar Sumenep mencapai 4-5 meter sedangkan di luar mencapai 7 meter. Jadi sampai kini mereka belum kembali, kata Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Cabang Lamongan Sudarlin.

Miftahul Arif dan Febriyanto hilang akibat kapal Indonesia yang mereka tumpangi tertabrak kapal tongkang Jumat lalu. Sudarlin mengatakan sebelumnya ada 13 nelayan asal Lamongan yang melaut dengan KM Indonesia dengan nahkoda Nur Hasyim. Tetapi pada Jumat ( 29/1) sekitar pukul 01.00 di tengah perairanutara Pulau Sapudi sekitar 12 mil laut dari Pulau Sapudi,ada ombak besar. Kapal itu tertabrak kapal tongkang yang tidak diketahui namanya.

Akhirnya sembilan orang tercebur ke laut karena terpental sedangkan empat orang bertahan di kapal. Setelah dilakukan pencarian dari sembilan yang mencebur ke laut hanya ditemukan tujuh orang. "Sementara Miftahul Arif dan Febriyanto hingga kini belum ditemu kan. KM Indonesia sendiri kembali ke Lamongan Selasa (3/2) lalu," kata Sudarlin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau