Tren Penderita DBD Naik

Kompas.com - 09/02/2009, 05:06 WIB

JAKARTA, SABTU - Kasus demam berdarah dengue di DKI Jakarta cenderung meningkat dan mulai membawa korban jiwa. Pada Sabtu (7/2) pagi, Muhammad Ridho, bayi berusia 10 bulan, meninggal di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, setelah dirawat sejak Kamis lalu.

Jenazah Ridho, anak pertama pasangan Iwan Setiawan (27) dan Anisa (26), warga RT 004 RW 02, Pulau Harapan, Kabupaten Kepulauan Seribu, pun dibawa keluarganya untuk dikuburkan di Pulau Harapan, Sabtu siang.

Sabihis, salah satu keluarga Iwan, menjelaskan, suhu badan Ridho mendadak panas tinggi pada Selasa (3/2). Iwan, yang juga anggota Polsek Kepulauan Seribu Utara, memanggil dokter puskesmas setempat. Suhu badan anaknya itu tak kunjung turun. Karena khawatir Ridho terkena DBD, orangtuanya lalu membawanya ke RSUD Koja, Jakarta Utara.

”Waktu di Koja belum diketahui Ridho terkena DBD. Malah, saya dengar anak itu menderita komplikasi kronis. Karena itu, orangtuanya merujuk anak mereka ke RS Polri Kramatjati, Kamis lalu,” kata Sabihis.

Kasus DBD di Jakarta Utara juga cenderung naik meski belum membawa korban meninggal. Sejak Januari hingga Sabtu, sudah ada 412 kasus DBD di Jakarta Utara dan terbanyak terjadi di wilayah Kecamatan Koja.

Wali Kota Jakarta Utara Bambang Sigiyono sempat mengunjungi RSUD Koja. Di sini ada 41 pasien (40 dewasa dan 1 anak) dirawat karena DBD dan 37 orang dirawat akibat diare (30 anak dan 7 dewasa).

DBD di Depok

Sementara itu, sejak Januari lalu jumlah penderita DBD di Depok meningkat sebanyak 29 persen. Menurut catatan Dinas Kesehatan Kota Depok, hingga akhir pekan lalu telah terjadi peningkatan jumlah pasien DBD di 15 rumah sakit di Depok. ”Pasien terbanyak dirawat di RS Bhakti Yudha sebanyak 55 orang,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Depok Ani Rubiani.

Penderita DBD pada Januari 2008 berjumlah 198 orang, sementara pada Januari 2009 mencapai 217 orang, termasuk tiga pasien yang meninggal dunia.

Menurut Ani Rubiani, jumlah penderita DBD memang biasa mengalami peningkatan setiap awal tahun.

Seiring bertambahnya penderita DBD, bertambah pula permintaan warga untuk dilakukan pengasapan (fogging). Pada bulan Januari lalu saja Dinas Kesehatan Kota Depok telah melakukan pengasapan di 2.310 rumah atau keluarga, sementara pada bulan Februari ini 2.215 keluarga telah mengajukan permintaan pengasapan kepada Dinas Kesehatan. Dari 63 kelurahan yang ada di Depok, 57 di antaranya merupakan wilayah endemik DBD.

Membeludaknya jumlah pasien rawat inap DBD telah memaksa sejumlah rumah sakit menambah tempat tidur. RSUD Depok, yang awalnya hanya menyediakan 62 tempat tidur, kini menambah 14 tempat tidur.

Kepala Pelayanan Medis RSUD Depok Asloe’ah Madjri mengatakan, saat ini RSUD berstatus siaga DBD. Karena itu, ruang tunggu rumah sakit pun sudah disterilkan dan difungsikan sebagai tempat perawatan.

Di Tangerang Selatan

Demam berdarah pun merebak di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Di lingkungan RT 09 RW 05 Permata Pamulang, misalnya, sedikitnya 11 warga dirawat di sejumlah rumah sakit di kawasan itu, dari RSI Bintaro hingga RS Asshobirin, Serpong. Ongkos yang dikeluarkan untuk biaya perawatan DBD di setiap rumah sakit bervariasi, Rp 4 juta-Rp 7 juta.

”Makanya kami ingatkan kepada warga, lebih baik mencegah daripada keluarga masuk rumah sakit. Ongkosnya lebih mahal,” ujar Suwirman, seorang warga.

Saat ini warga menyemprot dengan mesin semprot seadanya, yakni mesin Swingfog buatan Hamburg, Jerman, tahun 1908. Untuk membeli bahan kimia pembasmi nyamuk, warga berpatungan dan belajar mencampur sendiri. ”Mudah-mudahan upaya ini bisa mencegah DBD menyebar,” ujar Sugandhi, warga setempat. (cal/muk/USH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau