Rakyat Pilih Knesset, Gaza Terus Diserang

Kompas.com - 10/02/2009, 05:43 WIB

JERUSALEM, SENIN - Sekitar 5,4 juta rakyat Israel, Selasa (10/2) ini, memilih 120 anggota Knesset (parlemen).

Pemilu digelar setelah Ketua Partai Kadima, Tzipi Livni, November tahun lalu gagal membentuk pemerintah baru, menyusul mundurnya PM Ehud Olmert sebagai ketua partai dan perdana menteri akibat dugaan korupsi.

Pemilu ini diwarnai persaingan sengit antara Partai Likud beraliran kanan Likud pimpinan Benjamin Netanyahu dan partai kanan tengah Kadima pimpinan Tzipi Livni.

Jajak pendapat The Jerusalem Post menunjukkan dukungan kepada Netanyahu. Para analis menyebut, jika Israel dipimpin Netanyahu, masa depan proses perdamaian makin tidak menentu. Hubungan Israel dan masyarakat internasional, khususnya AS, kian sulit pula.

Netanyahu menegaskan, jika Partai Likud memenangi pemilu dan membentuk pemerintah baru, dia akan menghentikan penyelundupan senjata ke Jalur Gaza dan menyetop penembakan roket dari Jalur Gaza ke Israel. Ia menyatakan, tak akan membuka dialog dengan Suriah untuk mengembalikan Dataran Tinggi Golan.

Dalam konteks hubungan dengan Palestina, Netanyahu mengatakan, perundingan dengan Mahmoud Abbas hanya akan fokus pada isu keamanan dan ekonomi, bukan masalah perbatasan, penyerahan tanah, atau pengungsi Palestina. Ia mengkritik keras Kadima dan Livni yang dia tuduh telah menghentikan perang di Jalur Gaza sebelum mencapai tujuan strategis Israel. Netanyahu juga meragukan berdirinya negara Palestina yang tidak mengancam keamanan Israel.

Pemimpin Partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, menyatakan akan ikut serta dalam pemerintahan yang menolak peta perdamaian dan menolak mundur dari Dataran Tinggi Golan.

Livni tidak putus asa dan berharap suara pemilih yang masih mengambang berpihak kepadanya. Livni juga berusaha sebagian suara pendukung Partai Buruh dan Meretz yang berhaluan kiri diberikan kepada Partai Kadima untuk mengungguli Likud.

Jika memang, Livni berjanji melanjutkan perundingan damai. ”Saya tidak siap memimpin tanpa ada proses perdamaian. Harga itu tidak mungkin saya pikul,” tutur Livni.

Pesawat menggempur

Untuk membalas tembakan roket dari Jalur Gaza, pesawat-pesawat tempur Israel kembali menggempur dua markas Hamas, Senin (9/2). Lokasi itu sudah tiga kali diserang dalam agresi Israel selama 22 hari. Satu warga Palestina tewas.

Kelompok Jihad Islam mengaku warga Palestina yang tewas itu termasuk anggota Jihad Islam yang sedang menyelesaikan misi menyerang pasukan Israel yang tengah patroli di sepanjang perbatasan Gaza-Israel. Ia tewas saat Israel menyerang wilayah dekat Kota Beit Hanoun, Gaza utara.

Pihak Palestina mengaku salah satu misil pesawat tempur Israel mengenai bangunan yang selama ini digunakan sebagai markas Kepolisian Hamas. Pihak militer Israel kembali menegaskan serangan udara itu semata-mata membalas dua tembakan roket dari Gaza. Selain itu, militer Israel juga menyatakan, pasukan Israel melihat ada kelompok bersenjata di Gaza yang berusaha menyeberang perbatasan Gaza-Israel pada Minggu malam. Segera setelah itu, terjadilah baku tembak.

Meski demikian, Presiden Mesir Hosni Mubarak yakin kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas akan terwujud paling cepat pekan depan.(REUTERS/AFP/AP/LUK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau