JOMBANG — Setelah berlangsung sejak 17 Januari, praktik pengobatan dukun cilik Ponari (10) di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur, akhirnya dipastikan ditutup untuk waktu tidak terbatas, sejak Selasa (10/2).
Tutupnya tempat praktik dukun Ponari ini karena hingga saat ini sudah mengakibatkan empat orang warga tewas karena berdesak-desakan ingin disembuhkan Ponari. Keempat warga yang tewas itu rata-rata meninggal karena berdesakan dengan ribuan warga lain yang ingin diobati Ponari.
Kepastian penutupan itu terungkap dalam pertemuan muspida di Rumah Dinas (Rumdin) Bupati Suyanto, yang berlangsung hingga sekitar pukul 16.00. Dalam pertemuan itu, selain Bupati Suyanto dan unsur muspida, juga hadir unsur Muspika Megaluh, Kepala Desa Balongsari Nila Nurcahyani, serta keluarga Ponari, yang diwakili Paeno,
paman Ponari, dan Mukharomah, ibunda Ponari. Juga dihadirkan Ponari sendiri.
Dalam pertemuan yang berlangsung santai itu, pihak perwakilan keluarga setuju menutup praktik pengobatan Ponari. Persetujuan keluarga Ponari itu diwujudkan dalam bentuk surat pernyataan, ditandatangani Mukharomah dan Paenah, serta sejumlah saksi.
Di antara saksi-saksi yang ikut tanda tangan itu Camat Megaluh Adi Santoso, Kapolsek AKP Sutikno, dan Kades Balongsari Nila Nurcahyani. Bupati sendiri tidak ikut tanda tangan.
Ada empat poin alasan mendasari ditutupnya praktik Ponari. Di antaranya, Ponari harus memulihkan kesehatannya, kemudian Ponari yang masih anak-anak sehingga harus sekolah dan bermain, serta tidak ingin mengganggu lingkungan sosial.
Ponari sendiri yang sempat ditanya apa masih ingin mengobati, tidak menjawab dengan ucapan, melainkan hanya menggelengkan kepala. Itu dimaknai dirinya memang tidak berkeinginan mengobati. Demikian pula makhluk gaib yang menghuni batu ajaib temuan Ponari.
Sebelumnya, pihak keluarga sempat ragu-ragu untuk menghentikan pengobatan karena khawatir Ponari akan ngotot tetap mengobati pasien, karena sudah mendapat perintah dari makhluk gaib penghuni batu ajaib miliknya.
“Kalau Ponari sudah setuju tidak melakukan pengobatan, berari makhluk gaib yang ngemong dia juga sudah setuju berhenti mengobati. Tapi itu sampai kapan kami tidak tahu,” kata Paeno, seusai pertemuan.
Dengan ditutupnya praktik pengobatan Ponari, otomatis Ponari akan aktif lagi ke sekolah di Kelas III SD Balogsari, Megaluh, Jombang. Itu sebabnya, Bupati Suyanto seusai pertemuan kemarin sempat memberikan bekal kepada Ponari berupa peralatan sekolah. Meliputi tas, buku tulis, sepasang sepatu, serta sandal.
Bupati sempat bertanya kepada Ponari, keinginannya setelah dewasa ingin jadi apa. Ponari spontan menjawab, ‘menjadi tentara’. Mendengar itu, Suyanto dan seluruh yang hadir tertawa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang