Dukun Cilik Kembali ke Sekolah

Kompas.com - 11/02/2009, 07:17 WIB

JOMBANG  — Setelah berlangsung sejak 17 Januari, praktik pengobatan dukun cilik Ponari (10) di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur, akhirnya dipastikan ditutup untuk waktu tidak terbatas, sejak Selasa (10/2).

Tutupnya tempat praktik dukun Ponari ini karena hingga saat ini sudah mengakibatkan empat orang warga tewas karena berdesak-desakan ingin disembuhkan Ponari. Keempat warga yang tewas itu rata-rata meninggal karena berdesakan dengan ribuan warga lain yang ingin diobati Ponari.

Kepastian penutupan itu terungkap dalam pertemuan muspida di Rumah Dinas (Rumdin) Bupati Suyanto, yang berlangsung hingga sekitar pukul 16.00. Dalam pertemuan itu, selain Bupati Suyanto dan unsur muspida, juga hadir unsur Muspika Megaluh, Kepala Desa Balongsari Nila Nurcahyani, serta keluarga Ponari, yang diwakili Paeno,
paman Ponari, dan Mukharomah, ibunda Ponari. Juga dihadirkan Ponari sendiri.

Dalam pertemuan yang berlangsung santai itu, pihak perwakilan keluarga setuju menutup praktik pengobatan Ponari. Persetujuan keluarga Ponari itu diwujudkan dalam bentuk surat pernyataan, ditandatangani Mukharomah dan Paenah, serta sejumlah saksi.

Di antara saksi-saksi yang ikut tanda tangan itu  Camat Megaluh Adi Santoso, Kapolsek AKP Sutikno, dan Kades Balongsari Nila Nurcahyani. Bupati sendiri tidak ikut tanda tangan.

Ada empat poin alasan mendasari ditutupnya praktik Ponari. Di antaranya, Ponari harus memulihkan kesehatannya, kemudian Ponari yang masih anak-anak sehingga harus sekolah dan bermain, serta tidak ingin mengganggu lingkungan sosial.

Ponari sendiri yang sempat ditanya apa masih ingin mengobati, tidak menjawab dengan ucapan, melainkan hanya menggelengkan kepala. Itu dimaknai dirinya memang tidak berkeinginan mengobati. Demikian pula makhluk gaib yang menghuni batu ajaib temuan Ponari.

Sebelumnya, pihak keluarga sempat ragu-ragu untuk menghentikan pengobatan karena khawatir Ponari akan ngotot tetap mengobati pasien, karena sudah mendapat perintah dari makhluk gaib penghuni batu ajaib miliknya.

“Kalau Ponari sudah setuju tidak melakukan pengobatan, berari makhluk gaib yang ngemong dia juga sudah setuju berhenti mengobati. Tapi itu sampai kapan kami tidak tahu,” kata Paeno, seusai pertemuan.

Dengan ditutupnya praktik pengobatan Ponari, otomatis Ponari akan aktif lagi ke sekolah di Kelas III SD Balogsari, Megaluh, Jombang. Itu sebabnya, Bupati Suyanto seusai pertemuan kemarin sempat memberikan bekal kepada Ponari berupa peralatan sekolah. Meliputi tas, buku tulis, sepasang sepatu, serta sandal.

Bupati sempat bertanya kepada Ponari, keinginannya setelah dewasa ingin jadi apa. Ponari spontan menjawab, ‘menjadi tentara’. Mendengar itu, Suyanto dan seluruh yang hadir tertawa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau