Pasien Dukun Cilik: Sepekan Pun Saya Bertahan di Sini

Kompas.com - 11/02/2009, 14:00 WIB

JOMBANG, RABU — Para calon pasien Muhammad Ponari tetap nekat bertahan di seputar rumah bocah itu. Bahkan, jika harus menunggu sampai sepekan pun mereka akan bertahan.

"Saya sudah tahu tempat praktik Ponari ini sudah ditutup, tapi saya tetap menunggu. Siapa tahu nanti dia (Ponari) datang dan dibuka lagi praktiknya," kata Sunarti, salah seorang pasien asal Mojoagung, saat dikonfirmasi di Jombang, Rabu (11/2).
    
Ia memilih untuk bertahan karena sudah beberapa hari mengantre. "Saya lebih baik mengantre ketimbang saya harus pulang. Tanggung, dua hari mengantre harus pulang dengan tangan hampa," katanya.
    
Harapan itulah yang menjadikan Sunarti memilih untuk bertahan di tempat praktik dukun cilik Ponari. "Saya memiliki keyakinan kalau Ponari akan membuka lagi tempat praktiknya meski saya harus menunggu," katanya optimistis.
    
Menurut dia, menunggu Ponari untuk membuka kembali tempat praktiknya merupakan ibadah yang harus dilakoni dengan ikhlas. Segala sesuatunya itu kan butuh perjuangan, termasuk menunggu Ponari agar mau membuka kembali tempat praktinya.

Ibu dua anak ini mengaku, lebih tenang tinggal di tempat praktik Ponari ketimbang harus kembali pulang. "Kalau saya pulang, berarti saya menyerah dengan cobaan yang diberikan Tuhan. Putusan Ponari menunda pengobatannya merupakan ujian yang harus kami jalani," katanya lirih.
    
Ungkapan serupa juga disampaikan Suparman, pasien asal Pekalongan, Jawa Tengah, yang rela antre berdesakan di depan pintu masuk.
    
"Kalau harus menunggu hingga satu pekan lagi saya masih sanggup. Ketimbang saya pulang tanpa membawa hasil," katanya.
    
Ia mengatakan, sudah lebih dari tiga hari ini dirinya harus tidur di atas tikar yang digelar di tengah jalan. "Sudah menjadi resiko kami jika ingin mendapatkan pengobatan dari Ponari," katanya.
    
Hingga saat ini dirinya masih memegang kupon yang dibelinya dari panitia seharga Rp 3.000, tiga hari yang lalu. "Kemarin memang banyak pasien merobek kuponnya lantaran kecewa dengan surat pernyataan keluarga yang menghentikan praktik pengobatan Ponari. Namun, saya tetap menyimpannya, siapa tahu ada kesempatan bagi saya," katanya.
    
Sebelumnya, Ponari yang masih duduk di kelas III SD mendapatkan kemampuan alternatifnya pertama kali saat ia sedang bermain di guyuran hujan. Saat itu tiba-tiba muncul petir dan sebuah batu menjatuhi kepala Ponari.
    
Batu itu lantas dibawanya pulang ke rumah. Ponari kemudian mencoba keajaiban batu itu kepada anak tetangganya yang sedang menderita sakit. Anak itu langsung sembuh. Sejak saat itulah Ponari kemudian dikenal dengan julukan dukun cilik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau