Stigma terhadap Penyandang Lupus Masih Tinggi

Kompas.com - 11/02/2009, 19:58 WIB

BANDUNG, RABU — Stigma sosial terhadap penderita lupus di Indonesia masih tinggi. Selain itu, biaya pengobatan untuk penyandang lupus juga masih mahal.

Menurut Ketua Yayasan Syamsi Dhuha Foundation, lembaga swadaya masyarakat yang menaungi Care for Lupus dan Care for Low Vision Support Group, Dian Syarief, stigma terhadap penderita lupus masih tinggi.

Akibat sakitnya, penyandang lupus dikatakan malas dan tidak semangat bekerja atau sekolah. Hal itu terlihat dari seringnya penyandang lupus absen atau izin sakit. Meski sudah dijelaskan, perusahaan atau sekolah enggan memahaminya.

Akibatnya, banyak penyandang lupus kesulitan mendapatkan pekerjaan atau kesempatan belajar dengan baik. Sangat ironis. Penyandang lupus tidak perlu dikasihani, tetapi perlu perhatian dan pengertian orang di sekitarnya, katanya.

Oleh karena itu, Dian mengharapkan, masyarakat mengerti dan memahami hal ini. Namun, ia juga mengatakan, hal ini bisa tersampaikan bila penyandang lupus terbuka pada masyarakat.

Selain stigma sosial, permasalahan lain yang dihadapi penyandang lupus adalah masih mahalnya biaya pengobatan. Hal itu, menurut Dian, dialami sebagai besar penyandang lupus di Indonesia yang diperkirakan mencapai 200.000 orang.

Saat ini, penyandang lupus harus memiliki anggaran khusus untuk biaya pengobatan, periksa dokter dan laboratorium, serta perawatan rumah sakit. Biaya ratusan ribu hingga jutaan rupiah harus dikeluarkan untuk sekali pengobatan.

Jalur obat murah dan keringanan biaya laboratorium mungkin menjadi salah satu jalan yang bisa disediakan pemerintah. Dengan begitu beban yang harus ditanggung penyandang lupus bisa diminimalkan, katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau