BANDUNG, RABU — Stigma sosial terhadap penderita lupus di Indonesia masih tinggi. Selain itu, biaya pengobatan untuk penyandang lupus juga masih mahal.
Menurut Ketua Yayasan Syamsi Dhuha Foundation, lembaga swadaya masyarakat yang menaungi Care for Lupus dan Care for Low Vision Support Group, Dian Syarief, stigma terhadap penderita lupus masih tinggi.
Akibat sakitnya, penyandang lupus dikatakan malas dan tidak semangat bekerja atau sekolah. Hal itu terlihat dari seringnya penyandang lupus absen atau izin sakit. Meski sudah dijelaskan, perusahaan atau sekolah enggan memahaminya.
Akibatnya, banyak penyandang lupus kesulitan mendapatkan pekerjaan atau kesempatan belajar dengan baik. Sangat ironis. Penyandang lupus tidak perlu dikasihani, tetapi perlu perhatian dan pengertian orang di sekitarnya, katanya.
Oleh karena itu, Dian mengharapkan, masyarakat mengerti dan memahami hal ini. Namun, ia juga mengatakan, hal ini bisa tersampaikan bila penyandang lupus terbuka pada masyarakat.
Selain stigma sosial, permasalahan lain yang dihadapi penyandang lupus adalah masih mahalnya biaya pengobatan. Hal itu, menurut Dian, dialami sebagai besar penyandang lupus di Indonesia yang diperkirakan mencapai 200.000 orang.
Saat ini, penyandang lupus harus memiliki anggaran khusus untuk biaya pengobatan, periksa dokter dan laboratorium, serta perawatan rumah sakit. Biaya ratusan ribu hingga jutaan rupiah harus dikeluarkan untuk sekali pengobatan.
Jalur obat murah dan keringanan biaya laboratorium mungkin menjadi salah satu jalan yang bisa disediakan pemerintah. Dengan begitu beban yang harus ditanggung penyandang lupus bisa diminimalkan, katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang