Dukun Cilik Masih Obati Pasien Pemegang Karcis

Kompas.com - 12/02/2009, 08:56 WIB

JOMBANG — Niat pihak keluarga menutup selamanya praktik pengobatan dukun cilik Muhamad Ponari (9) ternyata gagal dilakukan. Pasalnya, massa calon pasien yang terus merangsek di sekitar rumah orangtua Ponari menjadi beringas, Rabu (11/2).

Melihat hal itu, polisi tidak bisa berbuat lain kecuali mengizinkan keluarga membuka kembali praktik pengobatan alternatif oleh bocah kelas III SD tersebut. Keputusan pembukaan kembali dilakukan pihak Polres Jombang bersama keluarga, Rabu sekitar pukul 15.00.

Keputusan itu terpaksa diambil demi menghindari kemungkinan terjadinya kerusuhan. Pasalnya, massa yang memenuhi halaman rumah keluarga Ponari di Dusun Kedungsari, Balongsari, Megaluh, Kabupaten Jombang, menunjukkan tanda-tanda kalap dan beringas sekaligus sulit dikendalikan.

Selain berteriak-teriak keras menghujat polisi, sebagian calon pasien juga melemparkan beberapa gelas plastik isi air mineral. Aksi ini mereda setelah bisa dicegah sesama calon pasien.

Seperti diberitakan, saking banyaknya massa calon pasien yang mengantre—bisa mencapai 50.000 orang sehari— ada empat calon pasien Ponari yang meninggal. Setelah itu, Ponari sempat sakit karena kelelahan sehingga pihak keluarga memutuskan menutup praktik pengobatan Ponari.

Kericuhan kemarin bermula ketika Wakapolsek Megaluh Deden Kimhar muncul di depan massa yang memenuhi halaman rumah Ponari dan sekitar rumahnya. Melalui pengeras suara, dia mengumumkan bahwa pengobatan Ponari sudah ditutup.

“Penutupan itu berdasarkan pernyataan dari keluarga Ponari sendiri yang ditandatangani ibu dan paman Ponari serta disaksikan pejabat Muspida,” kata Deden.

Deden juga mengumumkan penghentian praktik pengobatan Ponari dilakukan karena kondisi Ponari sakit dan lantaran Ponari harus melanjutkan sekolah.

Mendengar itu massa berteriak-teriak tidak percaya. “Ponari bocah sakti. Mana bisa sakit? Jangan bohongi kami. Kami butuh pertolongan dari Ponari,” teriak seorang laki-laki dengan logat Madura.

Ketika Deden membacakan surat pernyataan tertulis dari keluarga Ponari yang ditandatangani Mukaromah (ibunda Ponari) dan paman Ponari, Paeno, massa menuding pernyataan itu ditulis di bawah tekanan.

“Itu paksaan. Keluarga Ponari tidak mungkin punya niat menghentikan pengobatan. Bohong, bohong!” teriak beberapa warga lain.

Pada saat itulah beberapa gelas plastik isi air mineral sempat dilempar ke depan, tetapi hanya sampai di tengah kerumunan massa, tidak mengenai Wakapolres Deden dan para polisi yang hadir bersama Deden. Menghadapi situasi yang memanas, Deden membuka dialog.

Hal itu tak disia-siakan pengunjung. Seorang ibu lewat pengeras mengaku dirinya sudah antre sejak Senin lalu untuk minta pengobatan Ponari demi kesembuhan salah satu keluarga. Dia juga mengaku sudah mendapat kupon atau tiket sebagai persyaratan masuk antrean sejak Senin lalu juga.

“Saya sudah menunggu berhari-hari. Kalau ditutup bagaimana nasib kami,” ujar ibu tadi, disahut massa yang beramai-ramai berteriak setuju.

Deden akhirnya berembuk dengan pihak keluarga dan panitia pengobatan. Hasilnya disepakati untuk melanjutkan kembali pengobatan Ponari, dengan syarat untuk Rabu khusus yang sudah membawa karcis. “Kami meminta pasien yang tidak ada kupon segera pulang,” kata Deden.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau