770 Pohon Pinus di Magelang Tumbang

Kompas.com - 12/02/2009, 18:27 WIB

MAGELANG, KAMIS - Sebanyak 770 pohon pinus di kawasan hutan produksi milik Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu, tumbang akibat angin puting beliung. Peristiwa ini terjadi di 12 petak yang tersebar di wilayah Resor Pemangku Hutan (RPH) Srandil, Kabupaten Semarang, dan RPH Pagergunung di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.

Kepala Seksi Pengelolaan Sumber Daya Hutan Perum Perhutan KPH Kedu Utara, Kuspriyadi mengatakan, semua peristiwa tersebut terjadi selama bulan F ebruari lalu. Ini adalah kejadian pohon tumbang pertama yang terjadi selama tahun 2009. "Mengacu pada tahun-tahun sebelumnya, bencana angin puting beliung ini masih akan terjadi hingga mendekati pergantian musim kemarau, yaitu pada bulan Maret hingga April," katanya, Kamis (12/2).

Dari 770 pohon pinus tersebut, sebanyak 685 pohon pinus tumbang di 10 petak kawasan hutan di RPH Srandil, 85 pohon lainnya tumbang di dua petak kawasan hutan di wilayah RPH Pagergunung.

Volume pohon tumbang tersebut mencapai 384,66 meter kubik. Saat ini, Perum Perhutani sedang menghitung nilai kerugian yang ditimbulkan. Keseluruhan pohon tumbang tersebut sudah diamankan dan pada tahap selanjutnya akan dilelang.

Kawasan yang rentan diterjang angin puting beliung, adalah seluruh wilayah Bagian KPH (BKPH) Ambarawa, BKPH Wonosobo, BKPH Magelang, dan sebagian wilayah BKPH Candiroto. Selain karena kekuatan angin yang besar, pohon tumbang kerap te rjadi karena lokasi hutan di empat wilayah tersebut berada di daerah pegunungan dengan kondisi tanah miring dan curam.

"Pohon yang tumbuh di lokasi curam biasanya akan lebih gampang tumbang dan kurang memiliki kekuatan mengakar dalam tanah dibandingkan pohon yang tumbuh di tanah datar," ujarnya.

Menurut data dari Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Magelang, wilayah yang rawan terkena angin lesus atau puting beliung adalah daerah-daerah yang berada di lereng Gunung Sumbing, Merbabu, dan Sindoro. Daerah tersebut meliputi Kecamatan Kajoran, Kaliangkrik, Bandongan, Windusari, Grabag, Ngablak, Pakis, Candimulyo, Tegalrejo, Salam, dan Mungkid.

Kepala Seksi Perlindungan Masyarakat Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Magelang, Heri Prawoto, terkait dengan bahaya angin lesus ini, pihaknya sudah menghimbau masyarakat untuk memotong ranting dan dahan pohon di dekat rumah, yang sekiranya membahayakan jika tumbang.

"Dengan memotong dahan, setidaknya korban dan kerugian yang ditimbulkan saat terjadi angin kencang dapat lebih diminimalisir," kata Heri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau