Wijaya Karya: "A Quiet Integrated Construction Company"

Kompas.com - 13/02/2009, 07:30 WIB

Nama dan logonya ada dimana-mana, terutama di tiang pancang kabel listrik PLN yang tersebar di seluruh Indonesia. Tapi ada dimana-mana di tempat yang tidak gampang dilihat banyak orang membuat masyarakat umum susah mengenalinya. Apalagi kalau diminta mengenali diferensiasinya.
Itulah yang terjadi pada PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), sebuah perusahaan BUMN konstruksi. Namun, begitu melihat lebih dekat, perusahaan ini diferensiasinya langsung gampang dikenali terutama kalau melihat produknya yang sejauh ini tidak ditawarkan para pesaingnya dan bisa memperkuat kualitas pekerjaan konstruksi. Melalui anak perusahaan WIKA Beton, WIKA memproduksi tiang pancang beton yang dipakai bukan hanya untuk tiang pancang listrik tapi juga tiang pancang bangunan beton.

Dengan melihat sekilas keberadaan anak perusahaan tersebut, maka setiap orang yang bergerak di industri konstruksi tidak ragu menyebutnya sebagai the most integrated construction company in Indonesia. Positioning tersebut membuat WIKA bisa dianggap sebagai perusahaan yang paling diuntungkan dengan rencana pemerintah menggenjot berbagai proyek infrastruktur. Karena dengan memiliki anak perusahaan yang punya peran sentral dalam proses konstruksi, terbuka luas kemungkinan untuk menaikkan margin tapi tetap dengan kualitas tinggi, sesuatu yang diimpikan di industri konstruksi.

Rupanya posisi tersebut membuat WIKA lebih percaya diri dalam menggarap peluang baru di bisnis infrastruktur, seperti munculnya program pembangunan berbagai pembangkit listrik. WIKA yang sebelumnya sudah masuk lewat tiang pancang listrik, mulai terlibat lebih dalam ke proses pembangunan pembangkit listrik. Kalau langkah ini berkembang luas dan tidak ada yang mengimbangi, maka tanpa banyak gembar-gembor WIKA bisa-bisa berevolusi menjadi an integrated infrastructure company yang didukung bisnis konvensional konstruksi, seperti EPC (engineering, procurement, construction).

Hanya saja, kalau melihat unit bisnis lain yang dimilikinya, seperti operator jalan tol, gedung, realty, dan bahkan tabung gas, bisa-bisa positioning solid yang mulai dikenali di dunia infrastruktur mulai tergerus. Apalagi kalau di bisnis seperti pembuatan tabung gas, ternyata WIKA terpaksa mengalokasikan resources yang semestinya bisa digunakan untuk memperkuat bisnis intinya, entah itu sebagai integrated construction company atau sebagai integrated infrastructure company. Padahal membesarnya peluang di bisnis infrastruktur di Indonesia pasti akan mengundang para pemain lain yang boleh jadi tidak akan ragu-ragu menandingi diferensiasi yang saat ini dimiliki WIKA.

Tampaknya kondisi tersebut dipahami benar oleh Bintang Perbowo, orang luar WIKA yang baru satu tahun duduk sebagai direktur utama WIKA. Setelah mengidentifikasi sejumlah diferensiasinya, Bintang menjadikan penajaman corporate culture dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia sebagai prioritas programnya. Ini akan dilakukan melalui pembentukan knowledge management system untuk memfasilitasi transfer of knowledge antar bagian yang pada akhirnya diharapkan akan menstimulasi terjadinya inovasi terus menerus. Sejalan dengan motto “Spirit of Innovation”.

Apabila proses tersebut bisa berjalan lancar, ini akan berimbas ke penguatan diferensiasi. Memang ini yang mesti dilakukan agar WIKA memiliki Marketing Value yang solid.

 

 

==================================================================================================

Riset untuk artikel ini dijalankan oleh tim MarkPlus Consulting yang dikoordinasi oleh Bayu Asmara, Senior Consultant MarkPlus Consulting.

"Philip Kotler's Executive Class: 103 Days To Go"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau