Depdag Ngotot Teken Perjanjian Perdagangan Bebas

Kompas.com - 13/02/2009, 10:02 WIB

JAKARTA, JUMAT —  Kontroversi keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dengan Australia dan Selandia Baru (AANZ-FTA) makin berkobar. Namun, Departemen Perdagangan (Depdag) bersikeras tetap akan meneken perjanjian itu pada 27 Februari 2009.

Adalah Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang memastikan hal itu. "Sementara ini belum ada perubahan jadwal," kata Mari.

Di sisi lain, para penentang perjanjian ini juga semakin meluas. Tak hanya lembaga swadaya masyarakat (LSM), para pengusaha pun mulai ikut bersuara keras menolak perjanjian itu. "Keuntungan buat Indonesia belum jelas," Kata Wakil Ketua Kadin Indonesia Beny Sutrisno.

Bahkan, di antara sesama menteri sendiri persoalan ini juga masih mengganjal. Beberapa waktu lalu lalu, kepada KONTAN, Menteri Perindustrian Fahmi Idris menyatakan ingin meminta penundaan penerapan FTA. Alasannya, FTA memaksakan tarif bea masuk turun secara bertahap.

Ini jelas berlawanan dengan usaha Depperin mengamankan produk lokal. "Kalau kami mengikuti jadwal dan agenda FTA dalam situasi kayak begini, produk dalam negeri mau dikemanakan?" cetus Fahmi.

Namun, Mari tidak terlalu khawatir. Ia menjelaskan, perjanjian FTA terdiri atas beberapa klausul yang sudah disepakati dan klausul yang masih dalam proses negosiasi. "Pemerintah sudah memperhitungkan plus minusnya," kata Mari mencoba menenangkan.

Alhasil, dampak krisis yang menjadi alasan sebagian pihak untuk menunda FTA juga bisa menjadi bahan negosiasi buat klausul yang belum disepakati. Selain itu, penerapan FTA juga tidak akan serta merta berlaku sejak penandatanganannya. Biasanya, untuk sektor-sektor yang sensitif baru berlaku belakangan, yakni tahun 2018 hingga 2020.

Pemerintah juga harus membuat peraturan menteri keuangan terlebih dahulu untuk memberlakukan isi perjanjian ini. "Itu baru berlaku pada saat kita sudah meratifikasi dan notifikasi perjanjian FTA," tukas Iman Pambagyo, Direktur Kerja Sama Regional Departemen Perdagangan. (Azis Husaini, Anna Suci Perwitasari, Asnil Bambani Amri/Kontan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau