Hillary dan SBY Akan Bicarakan Proposal Perdamaian Palestina

Kompas.com - 13/02/2009, 19:32 WIB

JAKARTA, JUMAT — Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton yang dijadwalkan berkunjung ke Indonesia, Rabu (18/2), mendatang akan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta. Salah satu topik pembicaraan di antaranya masalah proposal perdamaian Palestina.

"Saya kira itu akan menjadi bagian dari pembicaraan Presiden. Memang, belum banyak yang bisa saya beberkan di sini. Namun, memang, peluang ke arah perdamaian sudah ada," tandas Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal menjawab pers, seusai mendampingi Cameron Hume bertemu dengan Presiden Yudhoyono di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, Jumat (13/2). Dalam pertemuan tersebut, hadir Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda.

Proposal perdamaian Palestina muncul pada pertemuan Wakil Presiden Joe Biden dengan Wapres Muhammad Jusuf Kalla saat bertemu di Gedung Putih, Washington DC, AS, pekan lalu. Wapres Kalla pernah menyatakan akan memanggil Duta Besar RI untuk AS, Sudjadnam Parnohadiningrat, ke Indonesia untuk membahas isi proposal perdamaian tersebut.

Menurut Dino, peluang perdamaian Palestina cukup besar sejalan dengan perubahan pemerintahan di Israel menyusul adanya pemilu yang baru dilakukan. Peluang lainnya adalah adanya perubahan Pemerintah AS yang dipimpin Presiden Barack Obama. "Meskipun masih labil, akan tetapi perdamaian dengan adanya gencatan senjata sudah dibangun," tambah Dino.

Untuk merealisasikan perdamaian tersebut, lanjut Dino, gencatan senjata harus diperkuat dan dimantapkan kembali. Perdamaian secara internal di Palestina pun harus diwujudkan, yaitu antara Fatah dan Hamas. "Palestina tidak akan berdiri selama keduanya masih gontok-gontokan," ujar Dino lagi.

Dikatakan Dino, masalah lain yang harus diwujudkan adalah perundingan perdamaian Palestina-Israel yang selama ini macet. Mungkin format perundingannya harus dimodifikasi agar hal itu bisa berjalan lagi. Sebab, tidak mungkin terwujud perdamaian tanpa harus melalui meja perundingan. "Jadi, momentum itu harus dikembalikan lagi saat adanya peluang baru perdamaian," demikian Dino.

Selain itu, dalam pertemuan dengan Presiden Yudhoyono, Cameron yang baru pulang kampung dari AS menjelaskan adanya perubahan suasana kebatinan yang besar dari Pemerintah AS terhadap Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau