BATU, JUMAT - Pada sebuah film terlihat adegan beberapa orang di sebuah desa di Bali mengamuk, karena dalam beberapa pekan terakhir mereka tidak memiliki akses ekonomi.
Kehidupan sosial dan ekonomi di desa itu lumpuh, termasuk dunia pariwisata dan kesenian yang menjadi andalan pendapatan pemerintah di Provinsi Bali.
Wisatawan asing maupun domestik dilarang masuk ke desa tersebut, termasuk masyarakat lokal Bali sendiri. Masyarakat di desa tersebut juga tidak bisa keluar ke daerah lain. Untuk kebutuhan bahan makanan, mereka mendapat kiriman dari pemerintah daerah.
Film itu menunjukkan dampak dari pandemi flu burung di suatu daerah yang menimbulkan kekacauan sosial. Film itu bercerita bahwa flu burung jika sudah berada status pandemi, tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan, melainkan juga pada nonkesehatan.
Dampak luas dari pandemi flu burung itu terungkap dalam lokakarya nasional hari kedua di Batu, 10-13 Februari, dengan tema "Simulasi Respon Pandemi Influenza". Kegiatan yang digelar Dinas Kesehatan Jatim dengan didukung Unicef, Komnas Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (FBPI) itu diikuti utusan instansi pemerintah dan swasta.
Pada simulasi itu, peserta yang terdiri dari unsur pemerintah dan swasta dibagi dalam beberapa kelompok sesuai bidang tugasnya untuk mengidentifikasi berbagai kemungkinan jika Jawa Timur barada dalam kondisi pandemi flu burung.
Pada presentasi kelompok transportasi, telekomunikasi dan pariwisata yang dipresentasikan oleh Endah menunjukkan, suatu daerah akan kacau karena semua sektor terkena dampaknya.
"Akses ekonomi terganggu karena terjadi pembatasan interaksi sosial, pembatasan distribusi barang, dan jasa serta terganggunya dunia usaha," kata Endah.
Kalau sudah terjadi pandemi flu burung, maka pemerintah akan membatasi masyarakat agar tidak keluar rumah sehingga tidak ada aktivitas ekonomi. Apalagi jika daerah itu harus diisolasi, maka tidak akan ada pasokan makanan dari luar.
"Pada situasi seperti itu, akan terjadi situasi tidak menentu di masyarakat. Masyarakat akan berebut bahan makanan sehingga perlu melibatkan Polri dan aparat TNI," kata Hendy, dari kelompok pembahas dengan tema pertahanan dan keamanan.
Karena itu, katanya, dalam situasi seperti itu, perlu adanya efisiensi di semua bidang, termasuk pemanfaatan bahan makanan di luar beras untuk menjamin tetap terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat.
Wakil Ketua Pelaksana Harian FBPI dr Emil Agustiono MKes juga mengemukakan bahwa pandemi flu burung itu memang sangat berpengaruh pada berbagai aspek.
"Semua layanan masyarakat akan lumpuh. Meskipun demikian, kita tidak mungkin bisa mengatasi 100 persen dampak itu, tapi kita bisa mengurangi dampaknya," katanya.
Deputi Menko Kesra itu mengemukakan bahwa dalam menangani masalah ini perlu koordinasi yang baik dari semua pihak yang ada di suatu daerah yang terkena pandemi flu burung.
Karena itu, menurut dia, saat ini sangat mendesak untuk dibentuk komite daerah FBPI agar jika terjadi pandemi flu burung langsung bisa diambil langkah yang menyeluruh dengan melibatkan semua komponen di berbagai sektor pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Ia mengemukakan, karena virus mematikan itu berasal dari unggas, maka pemerintah daerah hendaknya membuat peraturan daerah tentang perunggasan. Lewat perda itu bisa diatur lalu lintas unggas yang keluar masuk ke daerahnya.
"Dengan adanya perda dapat diatur agar unggas yang dikirim ke daerah lain betul-betul bebas dari penyakit, termasuk unggas yang masuk ke daerahnya," katanya.
Selain itu, katanya, juga harus dicegah agar unggas itu tidak keluar dari suatu daerah melewati pelabuhan tidak resmi. Jika lewat pelabuhan tak resmi, maka unggas yang mengandung penyakit tidak akan terpantau.
"Memang tidak mudah membuat perda itu karena harus ada kesepakatan antara pemerintah dan rakyat lewat perwakilannya di DPRD," katanya.
Mengenai lokakarya simulasi penanganan pandemi influenza ini, kata Emil, hal itu merupakan salah satu upaya untuk mengajak semua elemen masyarakat agar waspada menghadapi kemungkinan pandemi flu burung.
Apalagi, katanya, siklus pandemi flu burung itu terjadi antara 20 dan 40 tahun. Sesuai catatan, pandemi influenza itu pertama kali terjadi tahun 1918-1919 dengan nama flu spanyol yang menyebabkan kematian 40 juta hingga 50 juta orang.
Kemudian, 37 tahun kemudian muncul flu asia, yakni pada tahun 1957 yang memakan korban jiwa dua juta hingga empat juta orang dan kemudian flu hongkong muncul 1968 dengan korban 1 juta orang. Dengan melihat siklus pandemi itu, maka tidak menutup kemungkinan pandemi akan terjadi dalam tahun-tahun ini.
"Untuk kesiapsagaan ini, Komnas FBPI akan mengadakan latihan keterampilan secara menyeluruh untuk menanggulangi penularan flu burung antarpulau di Jawa Timur dengan melibatkan TNI AL, TNI AD, Dinas Kesehatan dan lainnya pada Mei 2009 di Surabaya dan Selat Madura," katanya.
Sementara Unicef Perwakilan Jawa Timur dan NTB juga menaruh kepedulian pada upaya penanganan jika terjadi pandemi flu burung di Jatim dengan melakukan sosialisasi dan simulasi.
"Kegiatan sosialisasi dan simulasi tahun 2009 ini kami menganggarkan sekitar 300 ribu dolar AS guna melindungi anak-anak dari bahaya virus influenza," kata Kepala Perwakilan Unicef Perwakilan Jatim dan NTB, Sinung D. Kristanto.
Menurut dia, setahun lalu pihaknya juga mengadakan kegiatan simulasi dengan dana yang hamir sama. Daerah yang menjadi fokus perhatian adalah Tulungagung, Kabupaten dan Kediri serta Kabupaten dan Kota Mojokerto.
"Ini karena kelima daerah itu sudah ada kasus flu burung yang menimpa manusia. Kami memberikan pelatihan pada guru-guru, organisasi wanita dan juga melibatkan seniman, yakni Kartolo yang diajak membuat ’parikan’ (nyanyian bahasa Jawa) dengan pesan masalah influenza," katanya.
Ia mengemukakan, pihaknya memberikan perhatian pada masalah itu karena budaya masyarakat Indonesia masih sering membiarkan anak-anak bermain-main dengan unggas tanpa ada proteksi.
"Kami memberitahu agar anak-anak menjauhi unggas dan selalu mencuci tangan dengan sabun. Kami juga memberi tahu bahwa air sabun bisa dijadikan bahan untuk membersihkan kandang unggas," katanya.
Selain itu, katanya, data menunjukkan bahwa dari 119 penderita flu burung di Indonesia yang meninggal, 60 hingga 70 persennya adalah anak-anak. "Sejak tahun 2005, kasus flu burung di Indonesia sebanyak 145 kasus dan yang meninggal 119 orang," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang