Masyarakat Tersugesti Keajaiban Ponari

Kompas.com - 14/02/2009, 06:31 WIB

SEMARANG, SABTU — Dosen Psikologi Universitas Diponegoro, Hastaning Sakti, berpendapat, masyarakat sekarang ini tersugesti dengan keajaiban Ponari (10), bocah asal Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang dianggap sebagai dukun cilik karena mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

"Sugesti ini antara lain disebabkan karena masyarakat kini dihinggapi rasa kurang percaya pada hal-hal yang bersifat medis karena perawatan medis biasanya membutuhkan proses yang panjang hingga seorang pasien bisa sembuh," katanya, di Semarang, Jumat.

Selain memerlukan proses pengobatan yang lama, menurut dia, hasil yang didapat melalui pengobatan medis biasanya baru nampak sedikit demi sedikit.

"Masyarakat sekarang lebih suka hal yang instan. Jadi tidak mau terlalu repot menunggu proses yang lama," katanya.

Menurut dia, budaya instan yang sekarang ini menghinggapi masyarakat mengakibatkan mereka lebih suka menempuh cara yang lebih mudah, termasuk untuk mendapatkan kesembuhan.

Ia menilai, faktor inilah yang membuat masyarakat lebih memilih untuk datang kepada bocah yang baru duduk di kelas tiga SD itu dibandingkan ke dokter.

Menurut dia, faktor lain yang berpengaruh pada hebohnya dukun cilik Ponari ini adalah pengaruh krisis ekonomi yang berkepanjangan yang berdampak buruk pada masyarakat.

Kebanyakan masyarakat tidak memiliki uang untuk berobat, sedangkan pengobatan, baik di rumah sakit maupun puskesmas, sekarang ini menghabiskan banyak biaya.

Melalui Ponari, dengan membayar Rp 10.000 hingga Rp 20.000 saja, mereka bisa mengharapkan kesembuhan pada penyakit melalui kekuatan batu yang dimiliki bocah itu.

Akibat memiliki sepotong batu yang dipercayai mampu menyembuhkan aneka macam penyakit, rumah Ponari terus didatangi masyarakat yang hingga Rabu (11/2) diperkirakan berjumlah puluhan ribu orang.

"Menurut saya, yang terpenting adalah semua penyakit maupun kesembuhan kita kembalikan kepada Tuhan. Kita memang harus berikhtiar, boleh saja kepada Ponari, asal jangan memiliki kepercayaan yang berlebihan," tambahnya. (ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau