JAKARTA, SENIN — Jumlah Sertifikat Bank Indonesia terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. SBI menjadi pilihan terbaik perbankan menempatkan likuiditasnya di tengah kemandekan penyaluran kredit dan minimnya ketersediaan instrumen investasi aman lainnya. Penurunan suku bunga acuan atau BI Rate lebih lanjut akan mendorong penurunan SBI.
Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi SBI pada akhir Desember 2008 mencapai Rp 166,5 triliun atau 9,5 persen dari total dana pihak ketiga (DPK) perbankan nasional yang senilai Rp 1.753 triliun. Jumlah SBI cenderung meningkat sejak awal triwulan IV-2008, di mana posisi SBI baru sebesar Rp 84,5 triliun.
Ekonom BRI Djoko Retnadi, akhir pekan lalu di Jakarta, menjelaskan, ada sejumlah faktor penyebab jumlah SBI terus naik. Penghimpunan dana masyarakat, terutama oleh bank-bank besar, lebih cepat dibandingkan penyaluran kredit. Pada triwulan IV- 2008, DPK perbankan tumbuh sekitar Rp 227 triliun, kredit hanya sekitar Rp 102 triliun.
”Pertumbuhan kredit amat rendah dalam beberapa bulan terakhir karena ekspansi kredit ke segmen korporasi belum memungkinkan. Di sisi lain, instrumen investasi lain yang berisiko rendah seperti surat utang negara dan sukuk belum tersedia. Perbankan akhirnya berbondong-bondong menaruh dananya di SBI,” kata Djoko.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara mengatakan, penumpukan SBI juga dipicu oleh kebijakan pelonggaran giro wajib minimum (GWM). Karena tidak bisa disalurkan sebagai kredit, tambahan likuiditas dari pengurangan GWM tersebut akhirnya masuk ke SBI.
Jika penumpukan SBI terus berlangsung, biaya moneter BI akan bengkak. Penumpukan SBI pernah terjadi pada tahun 2006 dan 2007.