Sertifikat Bank Indonesia Menumpuk

Kompas.com - 16/02/2009, 08:16 WIB

JAKARTA, SENIN — Jumlah Sertifikat Bank Indonesia terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. SBI menjadi pilihan terbaik perbankan menempatkan likuiditasnya di tengah kemandekan penyaluran kredit dan minimnya ketersediaan instrumen investasi aman lainnya. Penurunan suku bunga acuan atau BI Rate lebih lanjut akan mendorong penurunan SBI.

Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi SBI pada akhir Desember 2008 mencapai Rp 166,5 triliun atau 9,5 persen dari total dana pihak ketiga (DPK) perbankan nasional yang senilai Rp 1.753 triliun. Jumlah SBI cenderung meningkat sejak awal triwulan IV-2008, di mana posisi SBI baru sebesar Rp 84,5 triliun.

Ekonom BRI Djoko Retnadi, akhir pekan lalu di Jakarta, menjelaskan, ada sejumlah faktor penyebab jumlah SBI terus naik. Penghimpunan dana masyarakat, terutama oleh bank-bank besar, lebih cepat dibandingkan penyaluran kredit. Pada triwulan IV- 2008, DPK perbankan tumbuh sekitar Rp 227 triliun, kredit hanya sekitar Rp 102 triliun.

”Pertumbuhan kredit amat rendah dalam beberapa bulan terakhir karena ekspansi kredit ke segmen korporasi belum memungkinkan. Di sisi lain, instrumen investasi lain yang berisiko rendah seperti surat utang negara dan sukuk belum tersedia. Perbankan akhirnya berbondong-bondong menaruh dananya di SBI,” kata Djoko.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara mengatakan, penumpukan SBI juga dipicu oleh kebijakan pelonggaran giro wajib minimum (GWM). Karena tidak bisa disalurkan sebagai kredit, tambahan likuiditas dari pengurangan GWM tersebut akhirnya masuk ke SBI.

Jika penumpukan SBI terus berlangsung, biaya moneter BI akan bengkak. Penumpukan SBI pernah terjadi pada tahun 2006 dan 2007.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau