Laporan wartawan Kompas Kornelis Kewa Ama Khayam
KUPANG, SENIN — Pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Nusa Tenggara Timur dan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan Nusa Tenggara Timur sangat sulit ditemuai wartawan, dan terkesan selalu menghindar. Setiap wartawan yang hendak bertemu dengan kepala BPK dan BPKP selalu berhadapan dengan Satpam setempat yang selalu menjawab, "Bapak berhalangan, rapat, keluar daerah, ke Jakarta dan seterusnya".
Di Kantor BPK NTT misalnya, Kompas sudah lima kali "tertolak", termasuk yang terakhir, Senin (16/2), mendatangi kantor yang terletak di Kantor Gubernur NTT lama Kupang. Tiga Satpam yang hanya duduk nongkrong di pendapa itu yakni Stef, Okto, dan John selalu menjawab, "Bapak tidak bisa diganggu, sangat sibuk."
Menurut catatan Kompas, pejabat-pejabat BPK itu seolah hanya membutuhkan wartawan saat berkunjung ke kabupaten tertentu, menyampaikan hasil temuan kepada pers lokal, kemudian diam. Padahal, beredar kabar mengenai adanya temuan penyelewengan uang negara sampai triliunan rupiah. Namun, temuan-temuan itu pun tidak pernah diproses sampai ke pengadilan. Anehnya, pascatemuan dugaan penyelewengan itu, hubungan mereka dengan pejabat bersangkutan justru semakin akrab.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang