Hillary dan Politik Luar Negeri RI

Kompas.com - 18/02/2009, 06:08 WIB

Ketika Senin kemarin Menlu AS Hillary Rodham Clinton tiba di Tokyo, Jepang, mengawali lawatannya ke beberapa negara Asia—Jepang, Indonesia, Korea Selatan, dan China—saat itu pula ia menabrak tradisi yang biasa dilakukan menlu baru AS.

Biasanya, yang pertama dikunjungi untuk memulai masa jabatannya adalah sekutu AS di Eropa dan Timur Tengah.

Sekadar gambaran, lawatan perdana Hillary menabrak tradisi. Lawatan perdana Menlu James Baker III (1989) pada zaman Presiden George HW Bush adalah Kanada dan Eropa Barat. Lalu Warren Christopher (1993) pada masa Presiden Bill Clinton ke negara-negara di Timur Tengah, Madeleine Albright (1997) pada masa Presiden Bill Clinton ke sekutu AS di Eropa Barat, Colin Powell (2001) pada zaman Presiden George W Bush ke Timur Tengah (Mesir, Arab Saudi, Israel, Gaza, Tepi Barat, dan Jordania), dan Condoleezza Rice (2005) pada masa Presiden George W Bush ke Inggris, Jerman, Polandia, dan Timur Tengah.

Dari sini jelas bahwa apa yang dilakukan Hillary saat ini adalah di luar kebiasaan. Dalam pidato pertamanya sebagai menlu, Jumat lalu, Hillary secara gamblang mengatakan bahwa selama beberapa tahun terakhir AS kurang memberikan perhatian yang pantas pada Asia. Bukan tanpa maksud kalau dia mengatakan hal itu.

Tujuan yang pertama, kiranya adalah Hillary ingin menarik garis yang tegas antara kebijakan luar negeri zaman Presiden Barack Obama dan Presiden George W Bush. Yang kedua, ia ingin mengemukakan sebuah cara pandang terhadap Asia. Washington melihat arti penting kawasan Asia yang tengah berkembang, baik dalam pertumbuhan ekonomi maupun politik dan pengaruh. Karena itu, Asia menjadi agenda penting politik luar negeri AS.

Jepang dan Korea Selatan jelas sekutu AS. Bahkan, Jepang merupakan sekutu tertua AS di kawasan Asia Timur dan Tenggara. Karena itu, lawatan Hillary ke kedua negara menjadi semacam peneguhan sikap perhatian AS terhadap mereka. China sebagai kekuatan besar Asia, bahkan dunia, terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. AS sangat membutuhkan China misalnya dalam menyelesaikan masalah Korea Utara.

Indonesia

Lalu, mengapa Indonesia juga menjadi tujuan dalam lawatan perdananya ini? Seberapa besar arti Indonesia bagi AS?

Fakta yang tidak mungkin dibantah, pertama, Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan AS sendiri. Kedua, Indonesia adalah negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Ketiga, Indonesia negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia. Keempat, Indonesia adalah negara terbesar di antara 10 negara anggota ASEAN.

Hal-hal itu sangat berarti bagi AS yang memiliki misi untuk ”menyebarkan” nilai-nilai demokrasi, yang menurut pidato Obama akan membangun hubungan dengan dunia Islam berdasarkan penghargaan dan kepentingan timba balik. Apalagi, ada keyakinan bahwa abad Asia segera datang yang para pemainnya antara lain negara-negara yang saat ini dikunjungi Hillary, selain India kiranya.

Dengan mampu menjalin hubungan baik dengan Indonesia, AS berharap akan mampu juga menjalin hubungan baik dengan negara-negara Islam di dunia. Hal itu penting dalam kaitannya untuk menyelesaikan masalah Timur Tengah, Irak, Afganistan, dan hubungannya yang kurang baik dengan Iran. Sebaliknya, inilah saatnya bagi Indonesia untuk berperan lebih aktif dalam panggung internasional, semisal upaya pencarian perdamaian Timur Tengah, tidak selalu low profile. Sudah saatnya pula Indonesia tampil ke depan keluar atau melampaui sekadar kawasan ASEAN.

Bila demikian, dengan setumpuk ”modal” yang dimiliki, Indonesia akan semakin diperhitungkan. (ias)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau