Situs Porno Jual Artis

Kompas.com - 18/02/2009, 09:18 WIB

JAKARTA, RABU — Situs prostitusi yang diklaim milik germo Hartono Prapanca mencatut nama dan foto sejumlah artis papan atas. Meski foto para artis itu tidak vulgar, tulisan penyertanya menyebutkan artis-artis itu bisa dipesan sesuai kebutuhan alias dipakai.

Artis-artis yang fotonya terpampang dalam situs hartonosejakdulu.com tersebut antara lain Julia Perez atau Jupe, Ria Irawan, Julie Estelle, Asmirandah, Ardina Rasti, Sarah Azhari, Nabila Syakieb, Intan Nuraini, Masayu Anastasia, dan Angel Lelga yang kini berganti nama menjadi Angelique.

Artis yang tarifnya paling mahal adalah Luna Maya dan Laudya Cynthia Bella.

Tidak dapat dipastikan situs tersebut benar-benar menyediakan artis dan wanita-wanita pemuas nafsu laki-laki atau hanya pekerjaan orang iseng belaka.

"Terkenal, terbaik, terpercaya sejak doloe dengan koleksi wanita-wanita cantik, menarik, dan berkepribadian untuk model/SPG serta sesuai dengan kebutuhan. Ingat-ingat jangan ke mana-mana. Semua ada di sini dan pasti puas! Awas tertipu! Hartono asli & paten," begitu pesan dalam halaman awal situs itu. Kalimat bisa dipesan sesuai kebutuhan itu diterjemahkan bisa dipakai (bispak).

Pengelola situs ini mengaku bermarkas di Jalan Prapanca, Jakarta Selatan, dan memiliki cabang di Surabaya, Batam, Bandung, dan Semarang. Dicantumkan pula dua nomor telepon bagi yang berminat memesan perempuan yang fotonya ada di situs tersebut. Namun, tadi malam kedua nomor telepon tersebut tidak bisa dihubungi.

Ketika ditanya soal namanya di website itu, Jupe mengaku tidak kaget. "Santai ajalah. Mau dibilang apa kek sama Hartono, rileks aja. Bilang sama Hartono, saya akan kasih Rp 300 juta kalau ada yang bisa dapetin saya," kata Jupe melalui telepon, Selasa (17/2) siang.

Jupe mengaku lelah karena sudah berkali-kali menghadapi pihak-pihak yang mengambil keuntungan dengan memanfaatkan dirinya. Jupe menduga, tubuh dan wajahnya yang seksi membuat foto-fotonya terpampang di majalah dan situs porno. "Aku kan seksi. Aku sih jaga sikap aja," katanya.

Jauh hari sebelum foto dan namanya nongol di hartonosejakdulu.com, Jupe pernah mengalami kejadian serupa. Pernah ada berita bahwa tarif mengencani Jupe semalaman mencapai Rp 1 miliar. "Bilang aja kalau harga saya sekarang sudah Rp 3 miliar," seloroh Jupe.

Sementara itu, kemarin siang, saat ditanya soal nama dan fotonya di situs hartonosejakdulu.com Luna Maya dan Laudya Cynthia Bella tak bersedia menjawab. Ditemui seusai syuting Dahsyat di Studio 6 RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, kedua artis itu diam seribu bahasa.

Sedangkan Ria Irawan sambil bercanda mengatakan, semoga ada yang benar-benar mem-booking dirinya. "Mudah-mudahan ada yang booking," katanya, kemarin. Ria mengaku ia adalah satu-satunya artis yang tidak pernah marah meski dicap bispak atau bahkan jadi perempuan simpanan.

Sementara Asmirandah mengaku tidak penah berbuat buruk. la mengaku belum pernah membuka situs prostitusi tersebut.

Blokir situs

Situs protitusi yang memajang foto dan nama artis-artis Indonesia, ternyata ditempatkan di hosting perusahaan Modern Outlook di Berjaya Times Square, Jalan Imbi, Kuala Lumpur, Malaysia. Situs itu dibuat 16 Juli 2007 dan masa berlakunya habis pada 16 Juli 2009.

Modern Outlook merupakan perusahaan layanan teknologi informatika, termasuk pembuatan situs dan menyewakan ruang untuk situs. Siapa pembuat situs hartonosejakdulu.com tak diketahui karena akses ke sana ditutup.

Menanggapi situs protitusi ini, anggota DPR dari Fraksi PAN, Abdillah Toha, mengaku kecewa terhadap kinerja Depkominfo karena tidak tegas menindak situs-situs pornografi dan provokatif. Menurut Abdillah Toha, DPR telah minta Depkominfo memblokir situs pornografi. Tapi, hingga kini situs-situs syahwat tersebut masih dapat diakses dengan mudah.

Dirjen Aplikasi Telematika Depkominfo Cahyana Ahmadjayadi mengaku, pihaknya kesulitan memblokir situs-situs tersebut. Pasalnya, dari sekitar 108 juta situs, 40 persen memuat konten pornografi.

Di bisnis prostitusi, nama Hartono Prapanca memang tidak asing. Namanya berkibar tahun 1990-an. Hartono dikenal sebagai germo kelas kakap dengan koleksi perempuan cantik dan para pelanggan dari kalangan atas. Oleh karena itu pula, Hartono dikenal sebagai pengusaha bordil kelas atas. Kabarnya, bisnis syahwatnya juga ada di Surabaya, Batam, Denpasar, dan Semarang.

Hartono memiliki nama lengkap Hartono Setiawan. Nama Prapanca merupakan nama lokasi favoritnya dalam berbisnis esek-esek. Ada yang menyebut nama tersebut berasal dart nama jalan di Jakarta Selatan. (Warta Kota/kin)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau