JAKARTA, RABU — PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) optimistis akuisisi dua perusahaan tambang di Kalimantan Timur rampung tahun ini juga.
"Mudah-mudahan tuntas sebelum akhir tahun, tinggal negosiasi saja. Dari sisi pendanaan juga tidak ada masalah," ujar Presiden Direktur PTBA, Sukrisno, di Jakarta Convention Center, Rabu (18/2).
Menurut Sukrisno, keputusan akuisisi dua perusahan tambang tersebut telah melalui proses uji tuntas atau due dilligence dari tiga hingga lima perusahaan yang menjadi incaran perusahaan.
Dengan alasan kerahasiaan, Sukrisno tidak bersedia merinci nama dua perusahaan tambang yang dimaksud.
Ia hanya menjelaskan, berdasarkan hasil evaluasi tim yang dikirim ke lokasi, satu perusahaan tambang memiliki kapasitas cadangan batu bara di atas 100 juta ton, sedangkan satu tambang lagi depositnya kurang dari 100 juta ton.
Dana untuk akuisisi perusahaan tambang tersebut diupayakan dari internal perusahaan. Akan tetapi, menurut Sukrisno, tidak tertutup kemungkinan juga melibatkan perusahan lain dalam bentuk konsorsium.
"Sejauh ini akan didanai perusahaan sendiri karena memiliki modal yang cukup dan perseroan tidak memiliki utang. Tetapi kalaupun menggandeng mitra perusahaan lain, PTBA ingin tetap mayoritas," katanya.
Ia menambahkan, hingga akhir tahun 2008 kas internal perseroan mencapai Rp 3 triliun, sebanyak 50 persen di antaranya digunakan untuk keperluan ekspansi. "Dana sebesar itu cukup membiayai rencana investasi perusahaan tahun ini," katanya.
Sebelumnya, PTBA pada 2008 telah menuntaskan akuisisi 51 persen saham PT International Prima Coal (IPC) dengan nilai akuisisi 17,85 juta dollar AS.
Laba
Ia melanjutkan, pada tahun 2008 perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp 1,7 triliun-Rp 1,8 triliun, meningkat dibanding tahun 2007 sebesar Rp 760 miliar.
Menurutnya, peningkatan pendapatan pada tahun lalu didorong melonjaknya volume penjualan, harga batu bara yang menguat, serta keberhasilan perseroan melakukan efisiensi biaya.
Volume penjualan batu bara pada 2008 mencapai 12,8 juta ton, naik dari tahun 2007 sekitar 10,12 juta ton. "Kombinasi pengelolaan tambang yang sudah ada dan tambang baru diharapkan dapat mendorong pendapatan perusahaan ke depan," katanya.
Pada tahun 2009 Sukrisno optimistis laba bersih perseroan meningkat hingga 20 persen, terutama didorong penambahan jumlah lokasi tambang tersebut. "Dua tambang tersebut akan mengkontribusi terhadap pendapatan mulai tahun 2010," ujarnya.