Railbus Pertama di Indonesia Diresmikan

Kompas.com - 19/02/2009, 13:41 WIB

INDERALAYA, KAMIS — Menhub Jusman Safeii Djamal meresmikan pengoperasian Railbus Kertalaya yang merupakan railbus pertama di Indonesia.

"Pengoperasian Railbus Kertalaya ini yang pertama dan dibuat oleh putra-putri Indonesia sehingga menjadi kebanggaan bangsa kita," katanya, seusai meresmikan pengoperasian perdana Railbus Kertayala, di Inderalaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Kamis.

Menurut dia, railbus merupakan sarana transportasi kombinasi dari konstruksi bus ringan dan kereta api. Dan, sarana transportasi ini sangat efektif digunakan karena dengan rel kereta yang minim saja sudah aman dioperasikan, tambah dia.
    
Jusman mengatakan, beroperasinya Railbus Kertalaya tersebut diharapkan mampu menjadi solusi bagi kekurangan sarana transportasi mahasiswa dari Palembang ke Inderalaya pulang pergi. "Selain itu, juga dapat mengurangi beban jalan raya yang kondisinya saat ini sudah sangat padat," katanya.
    
Dia menjelaskan, dengan dioperasikan perdana kereta api jenis kereta ringan di Sumsel, pihaknya berharap dalam waktu dekat daerah lain pun mengikuti program penyediaan sarana transportasi yang dinilai paling aman tersebut.
    
"Pengguna jasa transportasi publik dapat memilih sarana yang ingin mereka tumpangi ketika berangkat ke kampus atau ke lokasi lain," ujarnya.

Seusai meresmikan pengoperasian Railbus Kertalaya tersebut, Menhub bersama Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin dan rombongan menumpang kereta Kertalaya dari Inderalaya menuju Stasiun Kertapati Palembang.
    
Ketika berbincang dengan Gubernur dan Rektor Unsri, Menhub mengatakan, railbus tersebut diharapkan mampu mengatasi kemacetan yang kerap terjadi di jalur lintas Palembang-Inderalaya.
    
Dengan demikian, juga diharapkan mampu mengurangi angka kecelakaan di jalan raya tersebut, tambah dia.
    
Sementara itu, Dirut INKA, Roos Diatmoko, mengatakan, pembuatan kereta ringan atau railbus tersebut memakan waktu sampai dua tahun karena baru pertama memproduksi kereta jenis itu.

Adapun untuk memproduksi satu set kereta jenis KRD biasanya memakan waktu hanya selama delapan bulan, katanya.
    
Ia mengatakan, proses pembuatan railbus tersebut memakan waktu cukup lama, tetapi hanya membutuhkan dana sebesar Rp 15 miliar, sedangkan jenis KRD mencapai Rp 30 miliar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau