JAKARTA, KAMIS — Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Dradjad Haribowo meminta Menneg BUMN untuk memperingatkan perusahaan BUMN agar tidak melakukan transaksi spekulatif derivatif. Pasalnya, hal ini menyebabkan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terutama dollar AS.
"Menneg BUMN harus memperingatkan secara keras BUMN yang masuk ke transaksi spekulatif terutama derivatif. Karena kekeliruan mereka dalam mengambil keputusan dalam derivatif menyumbang pelemahan rupiah," kata Dradjad, di gedung DPR, Jakarta, Kamis (19/2).
Dradjad mengakui, sejumlah BUMN yang terjebak dalam transaksi derivatif valas karena unsur ketidaktahuan. Namun, menurutnya, bisa saja terjadi karena adanya kolusi. "Bukan tidak mungkin ada kolusi. Jadi BUMN yang kalah valas ini harus diperiksa," ujarnya.
Bila transaksi derivatif tersebut dilakukan karena adanya kolusi, maka kerugian yang diderita sejumlah BUMN tersebut akan masuk dalam kerugian negara.
Menurut Dradjad, pelemahan rupiah juga disebabkan oleh ketatnya jumlah dollar AS yang masuk ke dalam negeri. Sedangkan permintaan akan dollar AS terus melonjak.
"Kita belum berhasil memasukkan dollar dalam jumlah signifikan. Ada ketidakseimbangan yang cukup serius antara supply dan demand soal dollar," ujarnya.
Untuk itu, kata Dradjad, perlu upaya untuk menyeimbangkan supply dan demand dollar AS.
Dia mencontohkan, bila supply dollar AS diperkirakan turun karena ekspor turun, maka perlu diatur demand-nya. Selain itu, pemerintah perlu melakukan penjadwalan utang pemerintah dalam dollar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang