Anak, Ibu Hamil dan Menyusui Masih Banyak yang Kurang Gizi

Kompas.com - 19/02/2009, 16:31 WIB

KEKURANGAN gizi makro seperti karbohidrat, protein dan lemak serta zat gizi mikro (vitamin dan mineral) yang dikenal sebagai hidden hunger hingga mengakibatkan anemia gizi besi, gondok endemik, masih banyak ditemukan pada anak-anak, ibu hamil menyusui, terutama pada masyarakat miskin. Untuk itu, pola makan gizi seimbang perlu disosialisasikan sebagai gaya hidup sehari-hari.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Budihardja, dalam sambutan tertulisnya pada pembukaan Pameran Sadar Gizi Seimbang yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Gizi Nasional ke-59 di Jakarta, Kamis (19/2).

Budihardja menyatakan, Hari Gizi Nasional diperingati setiap tanggal 25 Januari untuk mengingat sejarah perkembangan pergizian di Indonesia yang ditandai dengan pembentukan Lembaga Makanan Rakyat pada tahun 1950 dalam rangka memperbaiki gizi rakyat Indonesia dan pendirian Sekolah Ahli Diet yang memproduksi tenaga profesional ahli gizi.

Dalam kurun waktu 59 tahun memerangi masalah gizi di Indonesia, lanjut Budihardja, berbagai kemajuan dan keberhasilan sudah banyak dicapai. Penyakit rakyat seperti hunger oedema atau beri-beri saat ini sudah sangat jarang ditemukan. Meski telah banyak keberhasilan, kekurangan zat gizi makro dan zat gizi mikro masih banyak ditemukan pada anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui, terutama pada masyarakat miskin, ujarnya.

Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir ini masalah kelebihan gizi yang ditandai kegemukan dan obesitas, penyakit tidak menular seperti jantung dan pembuluh darah, stroke, hipertensi, diabetes mellitus menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Bahkan, penyakit ini telah jadi sebab utama kematian di Indonesia. Ini berarti telah terjadi transisi epidemiologi, karena sebelumnya penyakit utama kematian adalah penyakit menular.  

 

Maka dari itu, kampanye mengenai pentingnya pola makan gizi seimbang perlu digalakkan, salah satunya dengan pameran sadar gizi seimbang. Pameran ini merupakan salah satu upaya pemerintah bekerja sama dengan dunia usaha dan organisasi profesi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi bagi kesehatan dan kualitas hidup sumber daya manusia, serta memasyarakatkan pola makan gizi seimbang sebagai gaya hidup sehari-hari.

"Harapan saya, pameran ini dapat memperluas pengetahuan pengunjung tentang pola makan gizi seimbang, sehingga dapat mengatasi kekurangan gizi mikro atau kekurangan vitamin mineral yang dikenal sebagai hidden hunger seperti anemia gizi besi, gondok endemik, sekaligus berperan sebagai penggerak, pelopor dan motivator dalam sadar gizi seimbang di kalangan masyarakat," ujarnya menambahkan.

Kepala Divisi Nutrifood Research Center Susana memaparkan, ada lima kelompok zat gizi yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Protein nabati bisa diperoleh dari susu kedelai, kacang-kacangan, tahu dan tempe, asam amino tidak lengkap, lemak relatif rendah, dan tidak mengandung laktosa. Adapun sumber protein hewani yaitu susu, daging, ikan, telur dan keju mengandung asam amino esensial lengkap, lemak relatif tinggi dan mengandung laktosa. Sementara zat gizi lain bisa diperoleh dari buah-buahan dan sayur-mayur.

"Jangan mengonsumsi gula berlebih, karena gula dapat diubah menjadi lemak dalam tubuh," kata Susana. Ia menyarankan agar konsumsi gula pasir maksimal lima persen total asupan kalori harian atau tiga sendok makan. Sumber gula bukan hanya gula yang kita tuangkan saat membuat teh atau kopi, gula terdapat hampir di setiap makanan atau minuman lainnya. Anjuran ini tidak hanya untuk penderita diabetes dan orang tua, tetapi ditujukan kepada semua orang yang ingin menerapkan pola hidup sehat.

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau