Din Berharap Obama Prioritaskan Dialog Tokoh Islam

Kompas.com - 20/02/2009, 13:40 WIB

JAKARTA, JUMAT — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin berharap di masa depan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, memberi prioritas dialog dengan tokoh-tokoh Islam dalam kunjungan berikutnya ke Indonesia. Hal ini dianggap perlu jika Obama benar-benar ingin memperbaiki hubungan AS dengan dunia Islam.

"Tentu para tokoh Islam akan menyambut dengan segala senang hati," ujar Din yang sedang berada di Brisbane, Australia, dalam siaran pers yang diterima Kompas di Jakarta, Jumat (20/2).

Sehubungan dengan pemberitaan media massa nasional dan internasional tentang sikapnya terhadap undangan makan malam bersama Hillary Clinton, Din menjelaskan bahwa ia menerima undangan jamuan makan malam bersama Menlu Hillary Clinton dari Dubes AS untuk Indonesia, dan Direktur sebuah LSM Indonesia, sehari sebelum acara.

"Saya langsung menyampaikan permintaan maaf tidak dapat hadir karena pada saat yang sama harus berangkat ke Australia memenuhi undangan empat bulan lalu untuk berpidato di Interfaith Summit di Brisbane pada Kamis (19/2) pagi," ujarnya.

Sebelumnya, ketika mengetahui rencana kedatangan Menlu Hillary Clinton, Din pernah memberi saran kepada Kedubes AS di Indonesia dan Departemen Luar Negeri Indonesia untuk mengagendakan pertemuan khusus dengan sejumlah tokoh Islam.

Pertemuan semacam ini juga dilakukan ketika kunjungan Presiden Bush, PM Tony Blair, PM Balkanende, dan Sekjen UE Solana ke Indonesia. "Saran saya itu juga didasari pada opini luas bahwa Presiden Obama ingin memperbaiki hubungan AS dengan dunia Islam, seperti yang saya dengar langsung saat Prayer Breakfast bersama Presiden Obama di Washington DC, pada tanggal 5 Februari yang lalu, dan dari US-Islamic World Forum yang saya hadiri di Doha minggu lalu," jelas Din.

Namun, ternyata Kedubes AS tidak dapat mengagendakan pertemuan khusus Menlu Hillary Clinton dengan tokoh Islam, tetapi hanya makan malam di Gedung Arsip Nasional dengan banyak kalangan.

"Dari konferensi pers Menlu Hillary Clinton di Pejambon, saya mengetahui bahwa isu perbaikan hubungan AS dengan dunia Islam belum menjadi prioritas. Hal ini terbukti dari tidak disinggungnya masalah tersebut, kecuali ketika ditanya oleh seorang wartawan, dan tidak diagendakannya dialog dengan tokoh-tokoh Islam," ujar Din.

Menurut Din, karena isu tentang Islam belum menjadi prioritas dari kunjungan Menlu AS kali ini, maka ia memilih untuk berangkat ke Brisbane, Australia, untuk menyampaikan pidato di hadapan para tokoh agama se-Asia Pasifik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau