Obama Disamakan dengan Monyet

Kompas.com - 20/02/2009, 13:55 WIB

NEW YORK, JUMAT — Insiden penembakan Travis, simpanse berusia 16 tahun, oleh polisi Stamford, Connecticut, menimbulkan ide nakal pada kartunis harian New York Post, Sean Delonas.

Dalam koran terbitan Rabu (18/2), sebuah kartun karya Delonas langsung terpampang. Dua orang polisi menembak simpanse yang roboh di tanah berlumuran darah. Dalam keterangan gambarnya tertulis, "Mereka harus mencari orang lain untuk merancang stimulus keuangan berikutnya."

Travis adalah simpanse kesayangan Sandra Herold yang terpaksa ditembak karena mengamuk. Ia menyerang teman Herold, Charla Nash, hingga kondisinya kritis.

Tentu saja, kartun ini mengundang reaksi keras dari banyak pihak. Mereka menilai kartun ini berbau rasis karena menyamakan warga turunan Afrika-Amerika sebagai monyet. Ya, monyet yang ditembak ini diidentikkan dengan Presiden Barack Obama, yang baru saja mengeluarkan rancangan undang-undang keuangannya.

"Bagaimana mungkin koran sebesar New York Post meloloskan kartun semacam ini? Membandingkan petinggi negara pertama yang keturunan Afrika-Amerika dengan simpanse yang mati. Tak ada alasan selain rasisme," serang Barbara Ciara, Presiden Asosiasi Jurnalis Kulit Hitam Amerika.

Senada dengan Ciara, aktivis HAM, Al Sharpton, menyebut kartun tersebut sebagai hal terburuk yang pernah terjadi dalam sejarah penyerangan ras Afrika-Amerika, mengingat ras ini disamakan dengan kera. Seharian telepon bernada marah masuk ke redaksi koran itu. Mereka menuntut harian itu segera meminta maaf atau terancam boikot panjang.

"Kartun tersebut murni parodi atas berita yang tengah hangat-hangatnya berlangsung. Penembakan simpanse di Connecticut. Kartun ini merupakan sindiran bagi Washington untuk membangkitkan kembali perekonomian. Mengenai pernyataan Al Sharpton, ia hanya ingin mencari kesempatan publikasi," ujar Col Allan, Pemimpin Redaksi New York Post.

Delonas sendiri cukup santai menanggapi kontroversi kartun ciptaannya. Ia menyebut kontroversi tersebut menggelikan. "Apakah Anda benar-benar berpikir saya mengatakan Obama harus ditembak? Saya tidak melihat hal itu dalam kartun tersebut. Itu soal RUU perekonomian. Jika disamakan dengan seseroang, bisa saja juru bicara Gedung Putih, Nancy Pelosi. Namun bukan itu maksud saya," ujarnya blak-blakan.

Robert Gibb, Sekretaris Gedung Putih menolak berkomentar. "Saya belum melihat kartun itu. Namun saya pikir tak semua orang membaca New York Post," ujarnya singkat.

Beberapa kali Delonas mengundang kecaman. Sebelumnya ia pernah membuat guyonan pada mantan istri Paul McCartney, Heather Mills. Ia menggambarkan Mills hanya memiliki satu kaki. Dalam kartun lain, artis Jessica Simpson digambarkannya mendepak kekasihnya Tony Romo, dan pindah ke pelukan maskot salah satu makanan cepat saji. ap/cnn/huf/tis

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau