Jalan Mistik pun Jadi Pilihan Mencari Kemenangan...(2)

Kompas.com - 23/02/2009, 08:56 WIB

MEMILIH jalan mistis untuk mencari kemenangan pada pemilu yang tinggal menghitung hari, tak semudah yang dibayangkan. Dua paranormal yang ditemui Kompas.com dan KompasTV, Ki Joko Bodo dan Ki Genderuwo menceritakan, ritual seperti apa yang disyaratkan bagi para kliennya. Syarat diabaikan, kemenangan lepas dari genggaman. Namun tak sedikit yang bersedia melakoninya.

Saking banyaknya caleg yang datang, terkadang Ki Joko Bodo harus menjalani 'perang' metafisika dengan paranormal lainnya. Apalagi, jika ada klien yang berasal dari daerah pemilihan yang sama, mendatangi paranormal yang berbeda. "Tentunya ada perang, secara fisik dan metafisika," kata Ki Joko Bodo.

Umumnya, para caleg meminta dibukakan auranya, sehingga para pemilih akan tertarik untuk memilih mereka. Untuk yang satu ini, caleg diminta membawa foto ke paranormal untuk "diisi". Foto inilah yang akan dipasang di spanduk, baliho, pamflet ataupun stiker. Bagi yang tak puas "hanya" membuka aura, tak sedikit yang rela menjalani ritual lainnya.

Diberikan Jimat dan Melakukan Ritual di Makam

Ki Joko Bodo berkisah, para kliennya akan diberikan jampe-jampe dan petuah, serta jimat atau pegangan, bahkan hingga dimandikan kembang. "Jimat bisa berupa cincin atau sesuatu yang dimasukkan ke dalam dompet. Ritual lainnya, harus puasa. Nanti menjelang hari coblosan (pemungutan suara), ada sesuatu yang harus ditanam atau dibuang," jelas dia.

"Sesuatu" itu, menurut Ki Joko Bodo, berupa pusaka berenergi yang disebutnya junjung drajad. Pusaka itu, harus dibuang atau ditanam dengan radius 10 kilometer dari tempat yang dituju, misalnya Gedung DPR atau DPRD.

Tak hanya itu, sang klien juga diajak melakukan ritual di makam Sunan Kalijaga dan Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Ritual berziarah di makam juga disyaratkan Ki Genderuwo. Paranormal yang berpraktek di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur ini mengatakan, ia mengajak kliennya berziarah ke makam leluhurnya, Cucu Jampi, di daerah Jampiroso, Temanggung Jawa Tengah.

"Tapi, kalau orangtuanya sudah meninggal, saya akan suruh untuk ziarah ke makam orangtua dulu sebelum ke makam Cucu Jampi," kata Ki Genderuwo yang ditemui pada hari Sabtu lalu.

"Ritual ini untuk meminta perantara kepada Mbah Jampi agar niatnya tercapai. Tapi, segala sesuatunya tetap diserahkan ke Allah," lanjutnya.

Mengenai tarif, kedua paranormal ini enggan menyebutkan, berapa rupiah yang mereka kenakan kepada para pemburu kekuasaan itu.

Tak ingin jadi 'korban' trik para caleg yang tak percaya diri? Kenali para caleg yang berlaga dan ketahui rekam jejaknya. Apapun usaha mereka, di hari pemungutan suara, tetap pemilih yang paling berkuasa....

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau