JAKARTA, SENIN — Pernyataan kesiapan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla menjadi capres dinilai memiliki dua makna strategis. Pertama, dengan kesiapannya menjadi capres, Kalla berhasil meredam pertentangan antara kelompok yang menginginkan Golkar mempunyai capres dari kader sendiri dan kelompok yang menginginkan pencapresan dari Partai Golkar menunggu rapimnas khusus. Hal ini penting untuk menjaga soliditas Golkar menuju pemilu legislatif.
Kedua, pernyataan itu membuat Susilo Bambang Yudhoyono yang diunggulkan Partai Demokrat sebagai capres harus mengambil sikap lebih cepat dan proaktif memutuskan apakah akan kembali berpasangan dengan JK atau tidak. Demikian diungkapkan Jeffrie Geovanie, Wakil Direktur Eksekutif LPP DPP Partai Golkar dalam pesan singkatnya kepada Kompas.com. "Artinya terlambat bagi SBY bila memutuskannya menunggu pemilu legislatif," tulis Jeffrie, Senin (23/2).
Jumat (20/2), Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan siap menjadi calon Presiden periode 2009-2014. Meskipun siap, Wapres Kalla menegaskan dirinya tidak pecah kongsi dengan Presiden Yudhoyono hingga Oktober mendatang.
Menurut Kalla, keputusan formal Partai Golkar akan dilakukan pada April mendatang dalam Rapat Pimpinan Nasional Khusus (Rapimnasus). Sebelumnya sejumlah Dewan Pimpinan Daerah Tingkat I Partai Golkar, seusai menghadiri Rapat Konsultasi Nasional di kantor DPP Partai Golkar Slipi, Rabu malam, menemui Kalla untuk meminta kesediaannya sebagai capres.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang