JAKARTA, SENIN — Menjelang pemilu, kita akan disuguhi 1.001 cara caleg mengenalkan diri dan meraih simpati. Lewat spanduk, sudah biasa. Begitu juga baliho yang besarnya luar biasa, atau tiba-tiba mendapatkan kartu nama caleg yang tak dikenal sama sekali. Dua caleg, DPRD dan DPR mencoba cara lain. Caleg DPRD DKI Jakarta asal Partai Demokrat, Lucky P. Sastrawiria, dan caleg DPR asal Partai Gerindra, Halida Hatta, membuat warung murah. Apakah hanya bertahan saat kampanye?
Kompas.com mendatangi kedua warung yang berlokasi di kawasan Pulo Cempaka, Jakarta, Senin (23/2). Warung "Serba 5000 " Lucky, dikelola koleganya di Demokrat. Sistem warung tersebut, sang caleg memberikan subsidi sebesar Rp 2.500 untuk setiap paket yang terjual.
Pengelola warung, Dewi, mengatakan, warungnya menyediakan 5 lima paket yang memakai nama Lucky. Paket-paket tersebut di antaranya 'Lucky Mantap', 'Lucky OK', dan 'Lucky Yess'. Menunya, Soto Betawi, Soto Tangkar, Pecel Lele, Pecel Ayam, dan Soto Ayam. Seluruh paket dibanderol Rp 5.000, termasuk nasi dan minum. Sehari, bisa terjual hingga 50 paket. Jadi, dalam sehari si caleg mengeluarkan uang sekitar Rp 125.000 untuk warung tersebut.
"Idenya diajukan suami saya. Kebetulan, saya juga pengin buka warung, jadi sekalian," kata Dewi.
Untuk mengenalkan caleg yang mendanai warung itu, setiap pembeli 'dihadiahi' kartu nama. Ada pula sebuah buku komentar untuk merekam respons masyarakat.
Warung lainnya, warung sehat dan murah Halida Hatta. Putri proklamator Bung Hatta ini sudah membuka warung ini sejak awal Januari lalu, berkat seorang sahabat, Prabowo Subianto, yang memiliki tempat tak terpakai. Warung murah itu menjual nasi soto seharga Rp 4.000. Sistemnya bukan sistem subsidi. Halida hanya memberikan modal awal sekitar Rp 200.000 saat awal warung dibuka.
"Cuma ngasih modal aja pas awal Rp 200.000. Uang itu diputar terus," ujar Suri Dirgasari, penggagas warung itu.
Bedanya, tak ada kartu nama yang disebar. Namun, sebuah spanduk besar terpampang menjadi nama warung bertuliskan nama Halida. "Pengelolaannya diserahkan ke salah satu warga. Untung hariannya lumayanlah, di atas Rp 30.000 per hari. Respons masyarakat lumayan, malah ada yang enggak masak karena lebih murah beli," tambah Suri.
Bagaimana respons masyarakat? Salah satu pembeli, Ryan, mengaku sudah mencoba dua kali warung "Serba 5000 ". Apakah memengaruhinya untuk memilih sang saleg? "Ah enggak juga. Saya sih antusias saja, murah, enak lagi. Harapannya sih, jangan karena mau pemilu saja. Kalau bisa, ya diterusin sampe setelah pemilu, ha-ha-ha," kata Ryan.
Komentar menarik lainnya juga diberikan Angga, "Boleh juga konsep warungnya. Tapi jangan cuma dijadikan ajang untuk mencari dukungan untuk pemilu nanti."
Banyak cara meraih simpati. Keseriusan meringankan beban hidup masyarakat masih perlu pembuktian.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang