DPR Pertanyakan Pentingnya Stimulus Fiskal dalam APBN

Kompas.com - 23/02/2009, 22:23 WIB

JAKARTA, SENIN - Permintaan persetujuan pemerintah pada Panitia Anggaran DPR, untuk menggunakan stimulus fiskal dalam APBN 2009 dipertanyakan DPR.

 

Dalam Rapat Kerja yang dihadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani dan jajarannya dari pihak pemerintah di gedung DPR, Jakarta, Senin (23/2) ditanggapi anggota Panggar DPR Hasto Kristianto dengan menyatkan bahwa pemerintah harus memaparkan secara jelas mengenai pentingnya stimulus sebelum DPR menyetujui pengajuan pasal 23.

 

"Dari tadi saya hitung kata pentingnya stimulus fiskal sampai lima kali disebut. Sebenarnya apa itu stimulus, apa pentingnya?," kata Hasto.

 

Menaggapi hal itu, Menkeu mengatakan stimulus diberikan agar dapat melewati tahun 2009 dengan dampak akibat krisis global yang sekecil-kecilnya.

 

Pemerintah mengajukan stimulus fiskal dalam APBN 2009 sebesar Rp 71,3 triliun. Dimana sebesar Rp 56,3 triliun sudah termasuk dalam UU APBN 2009 dan tambahan sebesar Rp 15 triliun.

 

Pemerintah juga mengajukan untuk penggunaan Silpa 2008 sebesar Rp 51,3 Triliun. Dana Silpa tersebut akan digunakan untuk membiayai kenaikan defisit sebesar 2,6 persen PDB dari sebelumnya yang hanya 2,5 persen.

 

Saat ini, rapat masih berlangsung dengan agenda mendengarkan jawaban pemerintah atas tanggapan DPR.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau