Ical Pimpin Tim Indonesia ke Gaza

Kompas.com - 24/02/2009, 18:01 WIB

JAKARTA, SELASA — Menko Kesra Aburizal Bakrie akan memimpin delegasi Indonesia mengikuti Konferensi Rekonstruksi Gaza di Palestina, yang akan berlangsung pada 2 Maret 2009 di Sharm el-Sheikh, Mesir.

"Delegasi Indonesia akan dipimpin oleh Menko Kesra pada konferensi di Mesir itu, didampingi unsur dari Deplu, sedangkan unsur departemen teknis lainnya akan bekerja setelah diketahui hasil konferensi itu," kata Kepala Bidang Tanggap Darurat dan Pemulihan, Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan (PPK-Depkes) dr Lucky Tjahjono, M Kes, saat menghubungi Antara di Bogor, Selasa (24/2).

Seusai mengikuti rapat di Kantor Menko Kesra yang membahas soal konferensi rekonstruksi itu, Lucky menjelaskan bahwa dalam pertemuan tersebut akan dibahas "payung besar" mengenai apa yang akan dilakukan berbagai negara yang mengikuti pertemuan antarbangsa itu.

"Setelah itu, ’payung kecil’-nya akan dibicarakan lagi di Jakarta oleh departemen teknis terkait dalam kaitan manajemen recovery emergency untuk membahas soal rehabilitasi rumah sakit, sanitasi, drainase air, dan lainnya," kata Lucky Tjahjono, yang pada 1-8 Januari 2009 masuk dalam tim aju delegasi Indonesia untuk bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza, baik melalui Yordania, maupun Rafah, Mesir.

Penegasan Indonesia akan berperan serta pada konferensi itu telah disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat bertemu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton pada Kamis (19/2) di Jakarta.

Sementara itu, PBB menyatakan bahwa pembangunan kembali Jalur Gaza setelah serangan tiga pekan Israel akan menelan biaya miliaran dollar. Sebabnya, puluhan ribu orang Palestina kini tak lagi mempunyai rumah dan 400.000 lainnya masih kekurangan air bersih.

Badan Pembangunan PBB (UNDP) menyatakan bahwa serangan 22 hari Israel di Jalur Gaza yang menyebabkan kehancuran besar-besaran pada bangunan umum dan pribadi telah meninggalkan 600.000 ton puing beton.

Penelitian awal memperkirakan bahwa lebih dari 14.000 rumah, 68 bangunan pemerintah, 31 bangunan yang digunakan oleh kelompok LSM secara keseluruhan atau sebagian rusak.

Sebagai akibatnya, UNDP memperkirakan ada 600.000 ton reruntuhan beton yang perlu dibersihkan. "Ini merupakan prioritas utama," kata Jens Toyberg-Frandsen, Kepala UNDP untuk wilayah Palestina.

"Puing itu bercampur dengan material beracun dan berbahaya serta mungkin mencakup senjata berbahaya. Puing itu perlu dibersihkan dengan segera untuk melindungi jiwa warga Palestina di Gaza dan untuk memudahkan akses segera ke pelayanan kemanusiaan dan sosial dasar," katanya.

UNDP sedang mengusahakan dana 25 juta dollar AS untuk membersihkan puing, menghancurkan, dan membersihkan tempat bangunan yang rusak, serta mengidentifikasi dan menjinakkan bom yang tidak meledak. Badan
PBB itu mengatakan, proyek tersebut akan menghasilkan 200.000 hari kerja untuk warga Gaza yang menganggur.

Serangan 22 hari yang dilancarkan oleh Israel sejak 27 Desember 2008 terhadap penguasa Hamas di Gaza telah menyebabkan lebih dari 1.300 warga Palestina tewas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau