Turkish Airlines Terpotong Jadi 3

Kompas.com - 26/02/2009, 04:20 WIB

AMSTERDAM, RABU  - Pesawat jenis Boeing 737-800 milik maskapai Turkish Airlines jatuh pada saat akan mendarat di Bandar Udara Schiphol, Belanda, Rabu (25/2). Badan pesawat terpotong menjadi tiga bagian karena menghantam tanah dengan keras sekitar 500 meter dari landasan.

Sedikitnya 9 orang dilaporkan tewas dan 50 orang cedera dalam kecelakaan tersebut. Pesawat itu membawa 127 penumpang dan 7 awak pesawat.

Turkish Airlines bernomor penerbangan TK 1951 meninggalkan Bandara Ataturk di Istanbul, Turki, pukul 08.22 waktu setempat (pukul 14.22 WIB) menuju Amsterdam. Saat mencoba mendarat di Bandara Schiphol pukul 10.31 waktu setempat (pukul 16.31 WIB), cuaca dilaporkan sedikit berkabut dan berangin.

Belum jelas apa penyebab kecelakaan tersebut. Dua retakan besar di bagian depan sayap dan bagian dekat ekor pesawat membuat badan pesawat terpotong menjadi tiga bagian. Bagian ekor terlepas dari badan pesawat. Namun, pesawat itu tidak terbakar.

Candan Karlitekin, Presiden Direktur Turkish Airlines, kepada wartawan di Turki mengatakan, jarak pandang bagus pada waktu pendaratan. ”Jarak pandang sangat jelas, sekitar 4.500 meter. Beberapa ratus meter sebelum mendarat, pesawat mendarat di lapangan, bukan landasan,” katanya.

”Kami telah memeriksa dokumen, tak ada masalah terkait pemeliharaan pesawat,” ujar Karlitekin. Hasan Tahsin, pilot pesawat itu, adalah mantan pilot Angkatan Udara Turki yang berpengalaman.

Sebuah stasiun televisi Turki melaporkan, pesawat bermesin ganda itu kehabisan bahan bakar. Akan tetapi, Kementerian Transportasi Turki menyatakan hal itu masih spekulasi. Tidak ada indikasi bahwa kecelakaan berhubungan dengan bahan bakar.

Merangkak

Salah satu penumpang, Kerem Uzel, menuturkan, bagian ekor pesawat menghantam tanah saat akan mendarat. ”Kami berada di ketinggian 2.000 kaki (600 meter) saat mendengar pengumuman bahwa kami akan mendarat,” ujarnya.

”Tiba-tiba pesawat turun dengan cepat seolah-olah pesawat jatuh dalam turbulensi. Ekor pesawat menghantam tanah. Pesawat tergelincir ke sebuah lapangan,” kata Uzel kepada stasiun televisi NTV.

Tuncer Mutluhan, penumpang pesawat yang bekerja di sebuah bank Turki di Belanda, menuturkan, hanya ada beberapa detik antara kesadaran bahwa pesawat bermasalah dan pendaratan sebenarnya. ”Saat pesawat mencoba mendarat dengan normal, rasanya justru seperti jatuh ke dalam kehampaan. Pesawat kehilangan kontrol, lalu tiba-tiba terempas dan jatuh. Semua terjadi dalam 3 atau 5 detik. Setelah itu, semua panik,” tuturnya.

Mutluhan mengatakan, tidak ada pengumuman keadaan darurat dari kapten pesawat. Kata-kata terakhir dari awak pesawat adalah agar penumpang mengencangkan sabuk pengaman dan bersiap mendarat. Kemudian ia merasakan pilot menambah kekuatan mesin sebelum turbulensi dan pesawat tiba-tiba anjlok.

Seorang penumpang pesawat lain menuturkan, ia melihat penumpang terluka yang terjebak di kursi penumpang saat ia merangkak keluar dari pesawat naas itu. Kebanyakan korban adalah penumpang yang duduk di bagian belakang pesawat yang mengalami kerusakan paling parah. Banyak penumpang bisa dengan mudah keluar dari pesawat lewat celah akibat retakan besar di badan pesawat.

”Sebagian besar penumpang mengalami luka-luka, tetapi ada juga yang tidak terluka. Kami ada di sebuah lapangan, 5-6 kilometer dari bandara,” kata Mustafa Bahcecioglu, salah satu korban selamat, kepada stasiun televisi Turki, Channel 24.

Pintu darurat terbuka lebar. Salah satu mesin pesawat tergeletak di atas tanah karena terpisah dari sayap pesawat.

Tidak terbakar

Menteri Transportasi Turki Binali Yildirim mengatakan, sebuah mukjizat bahwa tidak banyak jatuh korban. ”Fakta bahwa pesawat mendarat di permukaan yang lunak dan tidak adanya api membuat jumlah korban tidak banyak,” ujarnya.

Kieran Daly dari Intelijen Transportasi Udara mengatakan, dampak kecelakaan sangat parah, tetapi banyak penumpang selamat karena pesawat tidak terbakar. Menurut dia, ada peningkatan drastis dalam material yang digunakan untuk membuat pesawat terbang yang tidak mudah terbakar.

Para petugas penyelamat segera dikerahkan ke lokasi kecelakaan pesawat. Sekitar 30 ambulans dan truk pemadam kebakaran juga dikerahkan ke tempat jatuhnya pesawat. Sejumlah petugas medis merawat korban luka-luka di dekat lokasi jatuhnya pesawat, sementara polisi dan petugas pemadam kebakaran memeriksa pesawat.

”Dari 50 korban cedera, 25 orang dalam kondisi serius, di antaranya termasuk kru pesawat,” kata Michel Bezuijen, Asisten Wali Kota Haarlemmermeer. ”Saat ini kami tidak bisa mengatakan apa-apa soal penyebab kecelakaan. Prioritas kami adalah menyediakan pertolongan dan bantuan,” kata Bezuijen.

Menteri Transportasi Belanda Camiel Eurlings mengatakan, Turkish Airlines memenuhi seluruh ketentuan di Bandara Schiphol. Turkish Airlines juga tidak dilarang memasuki Uni Eropa.

Kecelakaan terakhir yang menimpa pesawat Turkish Airlines terjadi tahun 2003 di Turki timur yang menewaskan 65 orang.

Kecelakaan Turkish Airlines di Bandara Schiphol ini merupakan yang terburuk sejak pesawat kargo El Al milik Israel menabrak apartemen di tenggara Amsterdam pada Oktober 1992 dan menewaskan 43 orang, 39 di antaranya di darat. (ap/afp/reuters/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau