JAKARTA, JUMAT — Rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Jumat (27/2) pagi, turun 20 poin menjadi Rp 12.050/Rp 12.080 per dollar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya, Rp 12.030/Rp 12.040 karena pasar masih memburu dollar AS.
Direktur Utama PT Financorpindo Nusa Edwin Sinaga di Jakarta mengatakan, rupiah tetap terpuruk, namun koreksi harga yang terjadi tidak besar sehingga posisinya masih di level Rp 12.000 per dollar AS. "Hal ini disebabkan Bank Indonesia (BI) masih terus mengamati pergerakan bank-bank asing yang bermain valuta asing," katanya.
BI, menurut dia, sampai saat ini belum melakukan intervensi sekalipun telah mendapat dana cadangan devisa siaga yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk masuk ke pasar dan melepas cadangan dollarnya. "Namun, kalau melihat kondisi pasar seperti, kemungkinan BI hanya memantau saja karena secara rasional rupiah pergerakan mata uang Indonesia masih wajar," ucapnya.
Rupiah, lanjut Edwin Sinaga, memang harus tetap dijaga dengan ketat karena pada posisi saat ini dikhawatirkan bisa menjadi liar sehingga sulit dikendalikan. "Pada posisi itu rupiah bisa saja menjadi liar karena itu BI terus menjaganya secara intensif," ujarnya.
Rupiah sebelumnya berada di bawah angka Rp 12.000 per dollar AS, setelah Indonesia mendapat dana cadangan devisa siaga dari Forum ASEAN ditambah tiga negara Asia lainnya. "Namun isu positif itu tidak berlangsung lama karena rupiah kembali di atas angka Rp 12.000 per dollar AS," ucapnya.
Pemerintah juga akan menerbitkan obligasi dalam dollar AS di Amerika Serikat sebesar 4 miliar dollar AS, namun isu positif itu juga belum bisa mendongkrak rupiah menguat lagi. "Kami harapkan rupiah ke depan akan bisa menguat, apalagi masuknya dana pengusaha yang berada di luar menjelang pelaksanaan pemilihan umum nanti," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang