Indocement: "The Aspiring Solutions-Provider in Indonesia's Cement Industry"

Kompas.com - 02/03/2009, 07:19 WIB

Mengajari bayi makan merupakan tantangan yang mengasyikkan.

Bagi banyak orang tua yang punya bayi, itu seperti dipaksa untuk melakukan eksplorasi habis-habisan. Bisa dalam hal mencari kandungan makanan yang bagus, pilihan rasa yang tersedia, gampang tidaknya mendapatkan suatu merek, cara menyajikan makanan dan cara menyuapi. Proses eksplorasi semacam itu muncul karena para bayi yang menjadi end user itu tidak pernah bisa mengungkapkan apa maunya dan apa yang sebetulnya bagus untuk mereka.

Kalau orang tua dipaksa melakukan eksplorasi bermacam-macam, bisa dibayangkan tantangan yang dihadapi produsen makanan bayi. Mereka mesti bisa mempengaruhi para orang tua, yang merupakan influencer (dan sekaligus decision maker) agar memilih produknya, terutama yang dilengkapi dengan kandungan yang khas dari mereka. Dan biasanya proses edukasi tersebut dilakukan melalui dokter anak.
 
Perusahaan makanan bayi bukanlah satu-satunya perusahaan yang mengalami tantangan dalam menjual produknya. Produsen semen adalah contoh lain yang juga mengalami tantangan dalam menjual produknya. Maklum, pemilik rumah, meski merupakan orang yang sebenarnya merupakan pembeli semen, begitu bergantung pada kontraktor atau tukang bangunan dalam mengambil keputusan.

Dan, pada suatu masa, bisnis semen ini hampir mirip dengan bisnis kecap. Jarang sekali ada merek nasional, karena terkait dengan karakteristik khasnya dalam hal ketergantungan pada kedekatan lokasi pabrik dengan pasar. Karena 35 persen  komponen biaya di industri semen terletak pada biaya distribusi maka semen yang bersifat bulky tidak mudah dijual lintas geografi jika ingin tetap kompetitif secara harga.

Tapi seiring dengan ketatnya persaingan, yang namanya penjualan lintas geografi sudah mulai terlihat. Apalagi persaingan antar produsen yang sebetulnya berada di area yang sama. Tentu akan repot kalau perang harga cuma satu-satunya cara memenangkan persaingan.

Inilah yang sedang dihadapi PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) yang kebetulan bukanlah pemain terbesar di industri ini. Hampir selusin pabriknya terkonsentasi hanya di pulau Jawa. INTP perlu differentiation lain sebagai celah untuk bersaing. Ini boleh jadi disadari betul oleh INTP. Berbekal merek Semen Tiga Roda yang mempunyai tingkat awareness yang tinggi, INTP mulai membangun jaringan kemitraan dengan para retailer sejak awal tahun 2007.

INTP memang punya tiga customer penting, yaitu end-user, retailer, dan industry. Seringkali retailer bisa menjadi senjata INTP untuk berperan sebagai influencer dan mempengaruhi end-user. Inilah yang menginspirasi terbentuknya Mitra Semen Tiga Roda (MSTR), program yang dibentuk untuk meningkatkan loyalitas para penjual semen terhadap INTP.

Program loyalitas ini unik karena memiliki kartu keanggotaan yang bisa digunakan untuk melakukan pembayaran di beberapa merchant. Program ini juga menganut sistem poin. Program seperti ini mungkin biasa-biasa saja jika ditemui di industri business-to-customer (B2C) dimana program ditujukan langsung kepada end-user. Bedanya, anggota program ini adalah para pedagang semen, sehingga bisa dibilang ini adalah program loyalitas business-to-business (B2B). Program ini sangat emosional, bahkan kami sempat menjumpai MSTR di facebook. Padahal, banyak orang yang menyangka industri semen adalah industri komoditas.

Langkah membangun kemitraan ini bukanlah langkah instan. Proses edukasi para mitra merupakan langkah jangka panjang. Semua ini mungkin sebuah investasi bagi INTP mengingat jaringan kemitraan dengan pedagang ini bisa menjadi modal kuat untuk bisa memberikan solusi kepada end-user.

Selama ini, aspirasi produsen semen untuk menjadi solutions-provider bagi end-user seringkali terbentur kendala struktur distribusinya. Produsen tidak mempunyai akses langsung ke end-user. Retailer-lah yang bisa menjembatani hubungan tersebut. Jika berhasil membangun jaringan kemitraan ini tidak hanya di pulau Jawa, bukan mustahil INTP menjadi the first solutions-provider in Indonesia’s cement industry.


"Philip Kotler's Executive Class: 86 Days To Go"

====================================================================================================

Riset untuk artikel ini dijalankan oleh tim MarkPlus Consulting yang dikoordinasi oleh Bayu Asmara, Senior Consultant MarkPlus Consulting.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau