JAKARTA, SENIN — Garuda Indonesia tidak bisa langsung terbang ke Eropa jika benar embargo penerbangan Indonesia ke Uni Eropa dicabut Juni mendatang. Diperkirakan, baru akhir tahun Garuda bisa terbang. Demikian dikatakan Presiden dan CEO Garuda Emirsyah Satar di sela-sela pembukaan World Islamic Economic Forum yang dibuka Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, Senin (2/3).
"Kalaupun sudah siap, Garuda belum tentu juga terbang pada bulan Juni. You mau terbang, tapi pasarnya tidak ada, terus mau apa? Kita mau terbang tapi kosong, terus ngapain kita?" kata Emirsyah.
Menurut Emirsyah,, ada beberapa hal yang perlu disiapkan karena Garuda telah lama tidak terbang ke Eropa. Persiapan tersebut meliputi persiapan pesawat, destinasi penerbangan, distribusi, agen-agen, dan yang terpenting adalah pasarnya ada atau tidak. "Hal tersebut memakan waktu 3-4 bulan. Jika embargo dicabut Juni, berarti baru akhir tahun (Garuda terbang ke Eropa)" kata Emirsyah.
Emirsyah mengatakan, nasib Garuda dan maskapai penerbangan lokal lainnya tergantung dari kinerja regulator dalam memenuhi aturan penerbangan sipil internasional. Menurutnya, saat ini para regulator tersebut, International Civil Aviation Organization (ICAO) dan Departemen Perhubungan, masih terus melakukan pembicaraan. "Tapi saya optimistis karena ada perubahan di Indonesia," kata Emirsyah.
Menurutnya, perubahan itu ditandai dengan pembaruan regulator dalam penerbangan kita. Bisa ditunjukkan dengan disahkannya UU No 1/2009 tentang Penerbangan. Selain itu, kata Emirsyah, faktor kepercayaan luar negeri mulai meningkat. "Tahun lalu orang yang datang ke Indonesia meningkat hampir 8 persen," ungkap Emirsyah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang