SINGAPURA, SENIN — Won Korea dan rupiah Indonesia memimpin penurunan mata uang Asia pada hari ini. Hal ini diakibatkan adanya kekhawatiran kalau resesi global akan semakin parah. Alhasil, banyak investor yang tidak mau membeli aset-aset di pasar emerging market.
Asal tahu saja, sudah tiga hari ini mata uang won mengalami penurunan. Bahkan, penurunannya menyentuh level terndah sejak 1998. Salah satu penyebabnya adalah cadangan mata uang asing di Negeri Ginseng itu kian menipis. “Mata uang Asia pada dasarnya memiliki pergerakan searah dengan pasar bursa,” ujar Vushnu Varathan, Regional Economist Forecast Singapore Ltd.
Berdasarkan data dari Seoul Money Brokerage Services Ltd, mata uang won mengalami pelemahan sebesar 1,7 persen menjadi 1.560,25. Beberapa waktu lalu, won sempat menembus level 1.568,50 yang merupakan angka terendah sejak Maret 1998. Dengan demikian, sepanjang tahun ini won sudah mengalami pelemahan sebesar 19 persen dan merupakan pelemahan terbesar di antara sepuluh mata uang Asia yang diperdagangkan di luar Jepang.
Melemahnya mata uang asing di kawasan regional sangat erat berhubungan dengan tingkat ekspor di negara bersangkutan. Asal tahu saja, sudah empat bulan ini, tingkat ekspor Korea Selatan melempem akibat turunnya permintaan dari AS, Jepang, dan Eropa.
“Won akan tetap mengalami tekanan seiring dengan rendahnya pendapatan yang diterima para eksportir, meski demikian, selalu ada kesempatan bagi pemerintah untuk melakukan intervensi agar tingkat volatilitas dapat dikurangi,” jelas Kim Sung Soon, Currency Dealer Industrial Bank of Korea di Seoul.
Sementara itu, mata uang rupiah mengalami pelemahan sebesar 1,6 persen menjadi Rp 12.175 per dollar AS di Jakarta. Sedangkan, dollar Taiwan melemah 0,5 persen menjadi 35,135 dollar Taiwan.
Mata uang sejumlah negara Asia lainnya juga mengalami kondisi serupa. Peso Filipina keok 0,5 persen menjadi 49,05, baht Thailand melemah 0,1 persen menjadi 36,17, dan dollar Singapura melemah 0,3 persen menjadi 1,5512 dollar Singapura. Hari ini, dong Vietnam tak banyak mengalami perubahan dan bertengger pada posisi 17.480. (Barratut Taqiyyah/Kontan)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang