Awas, Peredaran Uang Palsu Meningkat

Kompas.com - 02/03/2009, 18:50 WIB

BANDAR LAMPUNG, SENIN - Bank Indonesia Bandar Lampung memperingatkan masyarakat Lampung untuk berhati-hati dan mewaspadai uang palsu. Itu karena menjelang Pemilu Legislatif, temuan uang palsu di Lampung oleh Bank Indonesia selama JanuariFebruari 2009 cenderung naik.

Manajer Humas KBI Bandar Lampung, Tb Zubier Ramadhan, Senin (2/3) mengatakan, menjelang Pemilu biasanya banyak terjadi serangan fajar dengan cara membagi-bagikan uang kepada masyarakat. "Bisa jadi uang yang dipakai untuk serangan fajar itu adalah uang palsu," ujar Zubier.

Uang palsu tersebut kemudian dibelanjakan masyarakat yang menerima ke toko atau pedagang. Pedagang atau pemilik toko kemudian menyetor uang penjualan ke bank umum. Melalui setoran dari bank umum kepada KBI itulah KBI mendeteksi adanya peredaran uang palsu. Selain setoran bank umum, uang palsu juga ditemukan lewat hasil tangkapan polisi atau laporan masyarakat.

Agus Sutopo, Kasir Muda Senior Seksi Operasional Kas Kantor Bank Indonesia (KBI) Bandar Lampung mengatakan, dari pemantauan KBI, uang palsu yang ditemukan KBI Bandar Lampung selama ini biasanya berasal dari Pulau Jawa, tidak ada yang dicetak di Lampung . Namun demikian, temuan uang palsu memang cenderung meningkat menjelang Pemilu.

Hasil rekapitulasi KBI Bandar Lampung menyebutkan, pada periode Januari Februari 2009 KBI Bandar Lampung menemukan uang palsu sebanyak 155 lembar senilai Rp 10,490 juta. Pada Januari 2009 KBI menemukan 76 lembar uang palsu terdiri atas 27 lembar nominal Rp 100.000 dan 49 lembar nominal Rp 50.000. Sedangkan pada Februari 2009 KBI Lampung menemukan 79 lembar uang palsu terdiri atas 29 lembar nominal Rp 100.000, 48 lembar nominal Rp 50.000, dan dua lembar nominal Rp 20.000.

Apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008, temuan 2009 bisa dikatakan naik dua kali lipat lebih. Catatan KBI Lampung menyebutkan, pada Januari-Februari 2008 temuan uang palsu oleh KBI Lampung sebanyak 65 lembar senilai Rp 4,310 juta.

Pada Januari 2008 KBI menemukan 15 lembar uang palsu terdiri atas 9 le mbar nominal Rp 100.000 dan 6 lembar nominal Rp 50.000. Sedangkan pada Februari 2008 KBI menemukan 50 lembar uang palsu terdiri atas 14 lembar nominal Rp 100.000, 33 lembar nominal Rp 50.000, dan tiga lembar nominal Rp 20.000.

Pemantauan KBI Bandar Lampung, temuan uang palsu itu cenderung terus meningkat sepanjang 2008. Apabila pada triwulan I 2008 temuan uang palsu sebanyak 129 lembar senilai Rp 8,440 juta, maka pada triwulan berikutnya temuan justru meningkat.

Triwulan II 2008 KBI Bandar Lampung mencatat temuan uang palsu sebanyak 214 lembar senilai Rp 13,100 juta. Triwulan III 2008 sebanyak 231 lembar senilai Rp 15,525 juta dan pada triwulan IV 2008 sebanyak 327 lembar senilai Rp 20,625 juta.

Lebih lanjut Zubier mengatakan, berdasarkan pemantauan uang palsu itu lebih banyak ditemukan di daerah pedesaan. Selain di perkotaan, kampanye-kampanye juga banyak dilakukan di wilayah perdesaan.

Apabila masyarakat perdesaan menerima uang melalui cara demikian, masyarakat diminta untuk mewaspadai. Masyarakat bisa melakukan pengecekan dengan 3D, yaitu dilihat, diraba, dan diterawang. Upaya itu akan menghindarkan masyarakat dari uang palsu.

Selain memberi peringatan demikian, KBI Bandar Lampung juga bekerja sama dengan kepolisian untuk pemantauan dan pengamanan. Selain itu, KBI akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat semua kalangan mengenai cara mengenali dan mendeteksi uang asli dan palsu.

Kepala Kepolisian Kota Besar (Kapoltabes) Bandar Lampung Komisaris Besar Polisi Syauqie Achmad mengatakan, Poltabes Bandar Lampung sudah memiliki tim intelijen khusus untuk menangani masalah khsusus sosial ekonomi pertahanan dan keamanan. "Tim tersebut yang akan bekerja memantau peredaran uang palsu," ujar Syauqie.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau