DEPOK, SENIN - Wabah flu burung kian merata dan menghantui warga Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi (Bodetabek). Korban tewas terakhir ialah bocah asal Rangkapanjaya, Kota Depok, Nurliza Mahmuda (5).
Murid TPA Asyiah ini tinggal di kampung Situpulo RT06/08, Rangkapanjaya, kecamatan Pancoranmas. Dia meninggal pada Sabtu (28/2) sekitar pukul 03.00 di RS Persahabatan, Jakarta.
Pada saat hampir bersamaan meninggal pula Andriansyah (9), asal Bekasi, dengan status suspect flu burung (Warta Kota (1/3), hlm 6). Mahmudin Sudin, orangtua Nurliza, hari Senin (2/3) mengatakan bahwa sebelum putrinya meninggal ada tiga ayam tetangganya mati mendadak.
Oleh kakek Nurliza, ayam tersebut dibakar. Seminggu setelah peristiwa itu, tepatnya Rabu (18/2), Nurliza mengeluh sakit kepala.
Sore harinya dia dibawa berobat ke Ny Sugi, perawat Puskesmas Jembatanserong. Karena tak ada perubahan maka Nurliza dibawa ke Bahar Medika di Pasar Lama Depok.
Lalu dilakukan tes darah dan hasilnya bocah itu dinyatakan menderita tifus. Mahmudin pun membawa Nurliza ke RSUD Depok. ”Setelah melihat hasil laboratorium, dokter rumah sakit itu bilang anak saya dirawat di rumah saja karena kondisinya tidak mengkhawatirkan,” katanya.
Kecewa terhadap RSUD Depok, Mahmudin membawa anaknya ke RS Bhakti Yudha. Di rumah sakit ini Nurliza dites darah hingga 10 kali.
Hasil tes menyebutkan anak itu terkena demam berdarah. Namun pada Rabu dia sesak napas dan nyeri di bagian belakang pinggang.
Setelah dirontgen, oleh dokter dia dinyatakan terkena radang paru-paru dan diberi obat batuk. Kamis (26/2) dilakukan penguapan untuk mengencerkan dahak agar bisa bernapas.
Jumat (27/2) diberikan pengasapan dengan tujuan agar bisa bernapas. Tak lama kemudian, dokter meminta agar Nurliza dirawat di Unit Perawatan Khusus (UPK) rumah sakit tersebut.
Alasannya ruangan tersebut lebih steril dan perawatannya lebih baik. Pada pukul 11.30 Nurliza dirontgen lagi.
Hasilnya, sebagian paru-parunya sudah memutih. Dokter menyebutkan bahwa anak itu diduga terkena flu burung.
Karena tidak mempunyai peralatan untuk mengatasi penyakit tersebut, RS Bhakti Yudha merujuk Nurliza ke RS Persahabatan, Jakarta. ”Kami sudah nunggu dari pukul 14.30 tapi baru berangkat pukul 19.00. Ini yang membuat kami kecewa.
Padahal ada tiga ambulans yang sedang parkir. Kata pihak rumah sakit ambulansnya satu paket. Sesampai anak kami di RS Persahabatan, dokter angkat tangan karena virusnya sudah menyebar,” tutur Mahmudin.
Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il yang sempat berkunjung ke rumah orangtua Nurliza mengatakan bahwa anak itu meninggal karena suspect flu burung. ”Yang kami sayangkan tak ada warga yang melapor saat sekitar 50 ayam piaraan mereka mati dalam kurun waktu seminggu, yakni tanggal 11-18 Februari,” kata Nur Mahmudi.
”Tidak ada rumah sakit yang ingin menyengsarakan pasiennya. Kalau RS Bhakti Yudha, mereka sudah merawat Nurliza dan ketika menyatakan suspect flu burung langsung merujuknya ke rumah sakit lain,” kata Nur Mahmudi lagi soal pelayanan rumah sakit yang membuat kecewa Mahmudin. (dod/chi)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang