Prospek ekonomi

Utamakan Pasar Lokal dan Suku Bunga

Kompas.com - 03/03/2009, 05:58 WIB

 

Jakarta, Kompas - Kondisi perekonomian global yang terus melemah semakin menekan nilai ekspor berbagai produk Indonesia.

 

Para pelaku ekonomi kembali menegaskan bahwa penguatan pasar domestik, penurunan suku bunga, serta membuka keran kredit bagi sektor-sektor usaha yang prospektif harus segera dilakukan agar ke depan perekonomian Indonesia bisa tetap tumbuh di atas 4 persen.

 

Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan, Senin (2/3), mengatakan, pada Januari 2009 nilai ekspor Indonesia hanya 7,15 miliar dollar AS atau sekitar Rp 85,8 triliun dengan posisi kurs Rp 12.000 per dollar AS.

 

Nilai ekspor itu turun 17,70 persen dibandingkan dengan ekspor Desember 2008 (month on month) atau 36,08 persen dibandingkan dengan ekspor Januari 2008 (year on year).

 

Penurunan ini, lanjut Rusman, merupakan penurunan ekspor paling parah yang dialami Indonesia sejak krisis ekonomi global.

 

Pada bulan Oktober 2008, November 2008, dan Desember 2008, penurunan nilai ekspor Indonesia masing-masing hanya tercatat 4,92 persen, 2,36 persen, dan 20,56 persen (year on year).

 

Penurunan ekspor ini dipicu oleh penurunan ekspor migas sebesar 57,79 persen dan nonmigas sebesar 30,64 persen.

 

Komoditas nonmigas yang mengalami penurunan ekspor paling parah adalah bahan bakar mineral, mesin, dan peralatan listrik, serta karet dan barang dari karet. Adapun ekspor komoditas yang masih meningkat antara lain timah, besi, dan baja, serta perhiasan/permata.

Masih ada peluang

 

Menurut Rusman, ke depan Indonesia masih memiliki peluang untuk meningkatkan nilai ekspor, yaitu pada produk sumber daya alam.

 

Sementara itu, produk industri dinilai akan mengalami tekanan akibat tingginya persaingan produk industri di berbagai negara. ”Tapi itu akan sangat bergantung pada bagaimana kita bisa memasarkan produk kita. Kalau sekadar gencar, saat ini semua negara juga sedang gencar-gencarnya memasarkan produk-produk industrinya,” tutur Rusman menjelaskan.

 

Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara mengatakan, penurunan ekspor Januari 2009 tampak drastis dibanding sebelumnya karena basis penghitungan yang tinggi pada semester I-2008.

 

Dia memperkirakan pada semester II tahun 2009 penurunan ekspor tidak akan terlihat terlalu tajam lagi karena angka ekspor pada semester II tahun 2008 telah terkoreksi cukup dalam.

 

Menurut Mirza, angka penurunan ekspor Januari 2009 lebih kurang sama dengan penurunan ekspor year on year. di beberapa negara Asia. Yang juga masih cukup melegakan, neraca perdagangan Januari 2009 masih surplus sekitar 800 juta dollar AS.

 

Sekalipun demikian, Mirza kembali mengingatkan bahwa sektor domestik harus dijaga agar tidak mengalami penurunan yang terlalu signifikan.

 

”Selama sektor domestik terjaga, pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan masih bisa sedikit diatas empat persen,” katanya.

 

Mirza juga menegaskan pentingnya penurunan suku bunga kredit untuk mendorong pertumbuhan sektor riil. Penurunan suku bunga kredit ini harus disusul dengan membuka keran kredit bagi sektor-sektor yang masih prospektif di tengah kondisi pelemahan ekonomi saat ini.

 

Yang juga tidak kalah penting, pemerintah pusat dan daerah harus segera mempercepat pengeluarannya.

Tunggu pulih

 

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan, prospek pasar ekspor produk industri Indonesia hanya bisa menunggu kesehatan lembaga keuangan negara importir pulih. Jika tidak segera pulih, kredit impor bakal semakin sulit dan ekspor cenderung menurun lagi.

 

”Langkah terbaik yang harus dilakukan pemerintah adalah meningkatkan konsentrasi pada pasar dalam negeri. Caranya, menahan impor seperti dilakukan sejumlah negara di dunia dalam upaya menyelamatkan negaranya,” kata Benny.

 

Ironisnya, lanjut Benny, pemerintah maupun masyarakat tidak pernah konsisten dalam menggunakan produk dalam negeri.

Meningkat 0,21 persen

 

Tingkat inflasi pada bulan Februari 2009 mengalami peningkatan sebesar 0,21 persen atau 8,6 persen untuk laju inflasi tahun kalender (year on year).

 

Kenaikan inflasi didorong oleh kenaikan harga pada semua kelompok kebutuhan, kecuali kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang turun 2,43 persen.

 

Menurut Mirza, laju inflasi itu masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Adapun kelompok yang mengalami kenaikan harga paling tinggi antara lain bahan makanan sebesar 0,95 persen, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,95 persen, serta sandang sebesar 2,85 persen.

 

Dari 66 kota yang disurvei Badan Pusat Statistik, tercatat 53 kota mengalami inflasi dan 13 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Samarinda, yaitu 1,62 persen, dan terendah di Manokwari sebesar 0,02 persen.

 

Deflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang, yaitu sebesar 1,06 persen, dan terendah terjadi di Tangerang serta Banjarmasin, masing-masing sebesar 0,03 persen. (REI/OSA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau