Jakarta, Kompas -
Para pelaku ekonomi kembali menegaskan bahwa penguatan pasar domestik, penurunan suku bunga, serta membuka keran kredit bagi sektor-sektor usaha yang prospektif harus segera dilakukan agar ke depan perekonomian Indonesia bisa tetap tumbuh di atas 4 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan, Senin (2/3), mengatakan, pada Januari 2009 nilai ekspor Indonesia hanya 7,15 miliar dollar AS atau sekitar Rp 85,8 triliun dengan posisi kurs Rp 12.000 per dollar AS.
Nilai ekspor itu turun 17,70 persen dibandingkan dengan ekspor Desember 2008 (
Penurunan ini, lanjut Rusman, merupakan penurunan ekspor paling parah yang dialami Indonesia sejak krisis ekonomi global.
Pada bulan Oktober 2008, November 2008, dan Desember 2008, penurunan nilai ekspor Indonesia masing-masing hanya tercatat 4,92 persen, 2,36 persen, dan 20,56 persen (
Penurunan ekspor ini dipicu oleh penurunan ekspor migas sebesar 57,79 persen dan nonmigas sebesar 30,64 persen.
Komoditas nonmigas yang mengalami penurunan ekspor paling parah adalah bahan bakar mineral, mesin, dan peralatan listrik, serta karet dan barang dari karet. Adapun ekspor komoditas yang masih meningkat antara lain timah, besi, dan baja, serta perhiasan/permata.
Menurut Rusman, ke depan Indonesia masih memiliki peluang untuk meningkatkan nilai ekspor, yaitu pada produk sumber daya alam.
Sementara itu, produk industri dinilai akan mengalami tekanan akibat tingginya persaingan produk industri di berbagai negara. ”Tapi itu akan sangat bergantung pada bagaimana kita bisa memasarkan produk kita. Kalau sekadar gencar, saat ini semua negara juga sedang gencar-gencarnya memasarkan produk-produk industrinya,” tutur Rusman menjelaskan.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara mengatakan, penurunan ekspor Januari 2009 tampak drastis dibanding sebelumnya karena basis penghitungan yang tinggi pada semester I-2008.
Dia memperkirakan pada semester II tahun 2009 penurunan ekspor tidak akan terlihat terlalu tajam lagi karena angka ekspor pada semester II tahun 2008 telah terkoreksi cukup dalam.
Menurut Mirza, angka penurunan ekspor Januari 2009 lebih kurang sama dengan penurunan ekspor
Sekalipun demikian, Mirza kembali mengingatkan bahwa sektor domestik harus dijaga agar tidak mengalami penurunan yang terlalu signifikan.
”Selama sektor domestik terjaga, pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan masih bisa sedikit diatas empat persen,” katanya.
Mirza juga menegaskan pentingnya penurunan suku bunga kredit untuk mendorong pertumbuhan sektor riil. Penurunan suku bunga kredit ini harus disusul dengan membuka keran kredit bagi sektor-sektor yang masih prospektif di tengah kondisi pelemahan ekonomi saat ini.
Yang juga tidak kalah penting, pemerintah pusat dan daerah harus segera mempercepat pengeluarannya.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan, prospek pasar ekspor produk industri Indonesia hanya bisa menunggu kesehatan lembaga keuangan negara importir pulih. Jika tidak segera pulih,
”Langkah terbaik yang harus dilakukan pemerintah adalah meningkatkan konsentrasi pada pasar dalam negeri. Caranya, menahan impor seperti dilakukan sejumlah negara di dunia dalam upaya menyelamatkan negaranya,” kata Benny.
Ironisnya, lanjut Benny, pemerintah maupun masyarakat tidak pernah konsisten dalam menggunakan produk dalam negeri.
Tingkat inflasi pada bulan Februari 2009 mengalami peningkatan sebesar 0,21 persen atau 8,6 persen untuk laju inflasi tahun kalender (
Kenaikan inflasi didorong oleh kenaikan harga pada semua kelompok kebutuhan, kecuali kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang turun 2,43 persen.
Menurut Mirza, laju inflasi itu masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Adapun kelompok yang mengalami kenaikan harga paling tinggi antara lain bahan makanan sebesar 0,95 persen, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,95 persen, serta sandang sebesar 2,85 persen.
Dari 66 kota yang disurvei Badan Pusat Statistik, tercatat 53 kota mengalami inflasi dan 13 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Samarinda, yaitu 1,62 persen, dan terendah di Manokwari sebesar 0,02 persen.
Deflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang, yaitu sebesar 1,06 persen, dan terendah terjadi di Tangerang serta Banjarmasin, masing-masing sebesar 0,03 persen.