JOMBANG, SELASA — Rif’atin kesal. Warga Dusun Kedungsari, Balongsari, Megaluh, Kabupaten Jombang, ini tak lagi bisa berjualan air mineral setelah praktik dukun cilik Ponari—tetangganya—ditutup polisi.
Pria berusia 32 tahun tersebut mulai Senin (2/3) tidak berjualan. Sebelumnya, sejak Ponari berpraktik sebagai dukun sakti yang mengobati ribuan pasien dengan air rendaman batu ajaib Rif’atin menjual air dalam kemasan ataupun berbagai makanan kecil dan bermacam-macam jenis minuman.
“Saya dilarang pak polisi jualan. Padahal, saya jualan di teras rumah sendiri,” keluh Rif’atin seraya menambahkan bahwa pada Minggu lalu, saat ribuan pasien Ponari diusir polisi, dirinya masih diizinkan berjualan.
Rif’atin mengaku rugi akibat penutupan praktik Ponari. Pasalnya, Jumat lalu dia telanjur kulakan air minuman dalam kemasan ukuran botol plastik besar (1,5 liter) sebanyak 40 dos. Untuk setiap dos isi 10 botol, Rif’atin membeli Rp 31.000 atau Rp 3.100 per botol dan dijual Rp 5.000 per botol kepada para pasien Ponari.
“Dalam dua-tiga hari sudah habis terjual karena banyak dibutuhkan pengunjung untuk dicelupkan dengan batu ajaib Ponari,” kata Rif’atin. Sebagai pedagang dadakan, dia sehari bisa mengantungi keuntungan bersih sekitar Rp 60.000 sampai Rp 100.000. Jumlah itu tentu jauh lebih tinggi ketimbang pekerjaan sebelumnya sebagai buruh tani dengan upah Rp 30.000 per hari.
Apalagi, selain membuka warung secara dadakan, Rif’atin juga menerima pasien yang ingin beristirahat atau menginap di rumahnya yang sederhana. “Ada satu kamar yang biasa dipakai pengunjung dengan uang sewa seikhlasnya, tapi rata-rata Rp 25.000 per malam,” kata Rif’atin.
Kini, setelah praktik Ponari ditutup, Rif’atin pun terpaksa kembali ke pekerjaan lama. “Ya, kembali kerja di sawah. Mungkin mulai besok saya harus bekerja di sawah,” ungkap Rif’atin, pasrah. Mayoritas warga di tempat yang tergolong desa miskin itu memang bermata pencaharian sebagai petani. Mereka tinggal di rumah-rumah sederhana.
Rasa kesal juga menghinggapi Suwanto yang sejak beberapa waktu terakhir menjadi tukang parkir di ujung gang menuju rumah Ponari. Ia mampu meraup penghasilan bersih rata-rata Rp 150.000 per hari. Dia merasa kecewa karena tidak bisa lagi menikmati berkah Ponari. “Iya, saya harus kembali menjadi buruh tani,” kata Suwanto.
Penutupan tempat praktik Ponari juga membuat susah para tukang ojek. Puluhan pengojek, baik yang sebelumnya memang bekerja sebagai pengojek maupun pengojek dadakan, kini juga kehilangan mata pencaharian.
Jangankan mengais rezeki dengan memboncengkan pasien, para pengojek ini bahkan tak lagi bisa masuk ke Desa Balongsari. Sejak Minggu lalu mereka termasuk kelompok yang dilarang masuk desa oleh polisi yang melakukan sweeping di mulut desa.
Padahal, menurut Masduki, pengojek asal Desa Denanyar, Kecamatan Jombang, saat praktik Ponari dibanjiri pasien, penghasilan bersihnya rata-rata Rp 150.000 setiap hari. “Sekarang saya harus kembali menjadi pekerja bengkel sepeda motor yang penghasilannya minim dan tidak menentu,” keluh Masduki.
***
Sebagaimana diketahui, sejak Minggu, polisi memang tegas menyikapi hal-hal yang berkaitan dengan Ponari. Selain mengusir ribuan pasien yang berniat berobat kepada Ponari, polisi juga memerintahkan para pedagang menyudahi aktivitas di dusun Ponari. Polisi juga meminta warga membongkar bangunan-bangunan darurat yang mereka dirikan.
Pantauan Surya, Senin (2/3), akibat sikap tegas polisi itu situasi di lokasi pengobatan Ponari jauh lebih lengang daripada sehari sebelumnya, di mana ribuan pasien sempat diusir ratusan polisi. Kini gang-gang sekitar rumah Ponari –yang biasanya dipadati massa– juga sepi.
Mayoritas warga setempat berada di rumah atau kembali bekerja di sawah. Hanya tampak beberapa warga membongkar bangunan darurat yang pernah mereka pakai untuk berdagang. Beberapa lainnya, terutama para pedagang dari luar kota, mengangkut peralatan dagangan dengan mobil pikap.
Sejumlah polisi masih berjaga di tempat-tempat tertentu, seperti di rumah orangtua Ponari, dan perempatan-perempatan jalan desa, serta pintu masuk desa. Di tempat-tempat itu polisi mengusir warga yang masuk desa.
Menurut Wakapolres Jombang, Kompol Deden Imhar, pengamanan dilakukan polisi sampai situasi benar-benar normal. “Sebab, kalau tidak dijaga dikhawatirkan terjadi penumpukan pengunjung lagi. Padahal, Ponari dan keluarganya sudah tidak ingin mengobati. Mereka ingin hidup tenang,” tutur Deden./SUTONO
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang