Oleh Yurnaldi
Imajinasi Zila Resam Arab Zade kelihatan liar, tapi tajam. Jangan bayangkan karpet yang sudah jadi, yang tentu dibuat dengan pabrikasi. Tapi lihatlah, bagaimana perempuan seniman karpet kelahiran Taheran, tahun 1959 itu, membuat karpet seni. Tangannya dengan campin (cekatan) menggunakan jarum untuk menarik benang yang merentang di alat seperti alat tenun bukan mesin (ATBM).
Adapun tangan kirinya kemudian memasukkan benang wol—yang diputus-putus sepanjang sekitar 5 cm—dengan warna sesuai gambar yang diinginkan imajinasi liarnya. Sama halnya dengan orang menenun, bagian yang dibuat lebih dulu adalah bagian bawah kemudian lanjut ke bagian atas.
Betapa rumitnya membuat gambar pemandangan dan atau kaligrafi, bahkan melukis obyek manusia dengan seni karpet. Sebab, tidak ada sketsa atau gambar pola yang dipindahkan. Namun, di tangan Zila, semua seperti mudah saja. Zila yang juga dosen di Universitas Seni di Taheran dan Universitas Seni dan Karpet di Erdegan, serta Manajer Direktur Budaya dan Seni Karpet Resam Arab Zade, ternyata seorang seniman ahli karpet. "Saya pernah mendapatkan dua penghargaan seni, dengan nilai tinggi master dari Asosiasi Perbakala dan Kebudayaan Negara Iran," ujarnya bangga.
Keahlian Zila membuat karpet seni menjadi tontonan menarik pengunjung pameran Pekan Seni Budaya Iran, yang dibuka Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik, Selasa (3/3) di Museum Nasional, Jakarta. Sejumlah karpet seni karya Zila membuat ratusan pengunjung terkagum-kagum.
Sementara itu, tak jauh dari Zila, seniman Gafar Qambarpor juga tengah asyik membuat lukisan kaligrafi. Gafar adalah pelukis kaligrafi terbaik di Iran dan telah mendapatkan Penghargaan Kaligrafer Terbaik Iran, tahun 1981. Ia telah berpameran sebanyak 38 kali dalam pameran kaligrafi tingkat nasional dan internasional.
Jika Gafar piawai melukis kaligrafi di kanvas, maka Ali Asghar jago kaligrafi dengan pahatan di atas kayu. Karya ukir seni kaligrafinya indah memesona. "Karya-karya saya lebih memerhatikan segi estetika, keindahan, elegan, dan alami. Hal tersebut bisa dicapai dengan ketenangan berpikir, rasa kebahagiaan, serta memohon taufiq dari Allah SWT," ujar Ali yang juga seniman kaligrafi pahatan kayu paling terkenal di Iran.
Pada pameran yang berlangsung hingga tanggal 10 Maret mendatang itu juga dapat disaksikan seniman keramik Mohsem Farkhi membuat keramik seni yang juga luar biasa, dengan desain-desain yang menarik, halus, dan mahal.
Dengan karya seni budaya yang menarik dan pertama kali dipamerkan di Jakarta itu, Pemerintah Iran berharap masyarakat Indonesia bisa mengapresiasinya dan meningkatkan kerja sama budaya kedua negara, yang saling menguntungkan dalam memajukan industri pariwisata.
Pekan Budaya Iran ini merupakan kerja sama Kedutaan Besar Iran di Jakarta dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, dalam meningkatkan apresiasi seni budaya kedua negara. Demikian kata Duta Besar Iran untuk Indonesia Behrooz Kamalvandi.
Dalam Pekan Budaya Iran digelar serangkaian acara antara lain pagelaran musik tradisional Iran, pemutaran film, pameran kaligrafi dan seni lukis kontemporer, serta pameran obyek wisata dan kerajinan masyarakat Iran.
Jero Wacik mengharapkan agar kerja sama kebudayaan, khususnya di bidang industri perfilman antara Indonesia dan Iran, sama-sama masuk dalam nominasi sebagai pemenang di sejumlah festival film internasional. Hal ini menunjukkan tingginya perhatian pemerintah kedua negara terhadap industri film nasionalnya agar terus memproduksi film-film yang berkualitas. Demikian katanya.
Iran mendatangkan 20 artis ternamanya untuk berdialog dengan masyarakat dan insan perfilman Indonesia.
Pembukaan Pekan Budaya Iran, Selasa (3/3), juga ditandatangani nota kesepahaman (MoU) bidang kebudayaan yang dilakukan oleh Dirjen Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI Hari Untoro Drajat dengan Dubes Iran Behrooz Kamalvandi.
Indonesia dan Iran jauh sebelumnya telah menandatangani cultural agreement sebagai kerja sama bidang kebudayaan tahun 1971. Kemudian, kerja sama tersebut dibuat kembali dan ditandatangani oleh Sekjen Depbudpar Sapta Nirwandar dan Deputi Menteri untuk Asia Pasifik dan CIS Kementerian Luar Negeri Iran Mehdi Safari pada tanggal 10 Mei 2006, saat lawatan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ke Jakarta.
Khusus kerja sama bidang pariwisata telah ditandatangani oleh kedua negara, 16 Desember 2002, dalam bentuk MoU on Tourism. Kemudian ditindaklanjuti dalam bentuk The First Walking Group Meeting on Tourism between Indonesia-Iran, yang hasilnya telah dituangkan dalam bentuk Minutes of Meeting, yang ditandatangani tanggal 8 Februari 2006. *
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang