Kesiapan Kalla Bikin HMI Bergetar

Kompas.com - 03/03/2009, 20:01 WIB

JAKARTA, SELASA - Secara organisasi, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) harus bersikap independen dan tidak terjebak untuk dukung mendukung sejumlah alumninya, termasuk Muhammad Jusuf Kalla jika maju sebagai calon Presiden RI. Namun, diakui kader HMI di seluruh Indonesia akan bergetar hatinya apabila Kalla maju sebagai calon Presiden RI.

Sekarang ini, dengan posisi Kalla sebagai Wakil Presiden, keluarga besar HMI mengaku sudah merasa bangga. Akan tetapi, perasaan bangga itu akan lebih besar lagi apabila Kalla dapat menjadi Presiden RI.    

Hal itu disampaikan Ketua Umum Ketua Umum PB HMI Arip Musthopa, dalam keterangan pers, seusai diterima Wapres Kalla di Istana Wapres, Jakarta, Selasa (3/3). Arif yang mengenakan topi kebanggaan HMI, datang didampingi pengurus HMI lainnya yang mengenakan topi serupa.

Menurut Arif, kepastian pencalonan Kalla sebagai capres, semuanya itu tergantung pada pada hasil pemilu legislatif 9 April mendatang. "Juga tergantung komitmen, niatan dan keteguhan hati beliau serta infrastruktur politik yang dimilikinya," ujarnya.

HMI sebagai organisasi bukan parpol, lanjutnya, tidak mungkin memberikan dukungan politik kepada beliau. Akan tetapi, diakui Arif, "Seluruh kader HMI di seluruh Indonesia akan bergetar hatinya apabila beliau mau sebagai capres di pemilihan Presiden dan Wapres tahun ini."

"Mungkin, hanya faktor kedekatan emosional dan historis antara HMI dan alumninya yang bisa mempengaruhi pilihan politik. Akan tetapi, secara organisasi pilihan itu tidak mungkin. Itu, pun tergantung pada individu masing-masing saat memilih," ujarnya.  

Saat ditanya seandainya Partai Golkar yang menopangnya kalah dalam pemilu legislatif, Arif menjawab,"Beliau agak sedikit termenung, akan tetapi kemudian menyatakan optimistisnya partainya bisa menang. "

Bukan orang Jawa

Menjawab pertanyaan mengenai faktor kelemahan Kalla sebagai orang non Jawa, Arif menyatakan, "Tadi, Pak Kalla bercerita bahwa ia pernah dimarahi oleh Kiai di Jawa Timur. Katanya, jangan bicara Jawa dan luar Jawa. Karena, kalau ia berkata seperti itu, orang Jawa bisa dicap diskriminasi. Jadi, beliau sendiri, menyampaikan cerita itu dan melihat apa yang terjadi di Amerika Serikat dengan fenomena Presiden AS Barack Hussein Obama yang bisa menginspirasi perubahan politik di Indonesia."

Kemungkinan keterusterangan Kalla dalam berkomunikasi dan tanpa tedeng aling-aling, Arif juga menyatakan tidak. "Indonesia butuh yang seperti itu. Jadi, tidak semuanya protokoler. Kalau kita melihat itu bukan satu kelemahan," tambah Arif, tak merinci kelemahan lainnya.

Dalam kesempatan itu, Arif mengakui, dalam pertemuan dnegan Kalla, HMI juga memberikan "HMI Award" dengan kategori negarawan politisi.

"Ini sebenarnya agenda yang tertunda. Seharusnya, penghargaan HMI ini disampaikan saat Dies Natalis HMI pada 16 Februari lalu. Namun, karena beliau baru pulang dari kunjungan ke luar negeri, beliau tidak sempat hadir," jelas Arif.

Dalam catatan Kompas, acara Dies Natalis HMI yang dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono waktu itu HMI hanya memberikan penghargaan kepada sembilan alumni HMI yang dinilai berjasa kepada HMI dan negara. Waktu itu, selain diberikan kepada mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, juga diberikan kepada Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Agus Salim Sitompul, Deputi Seswapres Bidang Kesra Azyumardi Azra, Soelastomo, Abdullah Hehamahua, Yusuf SK, aktivis HAM almarhum Munir, serta almarhum Ahmad Wahid.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau