JAKARTA, RABU — Dua partai pengusung duet SBY-JK, Demokrat dan Golkar, sudah menyatakan niat masing-masing untuk mengusung calon presiden sendiri.
Hal ini menimbulkan perubahan perkiraan dinamika politik, di mana sebelumnya kedua partai ini dinilai akan kembali berkoalisi. Dua blok, S (SBY) dan M (Megawati), akan menghadapi beberapa kemungkinan. Bertarung head to head atau ada blok baru yang akan menantang keduanya.
Prediksi Reform Institute, ada beberapa pemetaan kemungkinan koalisi pascapecahnya kongsi SBY-JK. Pemetaan koalisi didasarkan pada faktor preferensi politik pemilih, faktor tokoh capres, dan unsur tokoh-tokoh politisi masing-masing partai.
Direktur Riset Reform Institute Zaim Saidi memaparkan, ada tiga kemungkinan koalisi yang akan dilakukan Golkar. Pertama, Golkar akan menggandeng satu atau dua partai kecil untuk mengajukan pasangan kadernya sendiri, misalnya JK-Sultan.
"Ada trend suara Golkar turun sehingga tidak dapat mengajukan capres sendiri (tanpa koalisi)," kata Zaim pada diskusi "Peluang Capres Alternatif Pascapecah Kongsi SBY-JK" di Jakarta, Rabu (4/3).
Kemungkinan kedua, Golkar akan menggandeng PKS dengan mengusung JK-Hidayat Nur Wahid. Zaim mengatakan, kemungkinan ini dengan catatan bila PKS menolak tawaran berkoalisi dengan Demokrat untuk memasangkan SBY-Hidayat.
"Kemungkinan lain, Golkar bisa saja berkoalisi dengan PAN dengan atau tanpa dukungan partai lain," tutur Zaim.
Sebelumnya, sejumlah pengamat memprediksikan, pasangan status quo masih akan berjaya dan cukup merepotkan para pesaingnya. Kini, peta persaingan semakin sulit diprediksi karena semakin bernafsunya partai-partai mengusung calon sendiri. "Walaupun pada akhirnya semua partai akan pragmatis dan tidak akan mengambil langkah yang merugikan," ujar Direktur Reform Institute Yudi Latief.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang