Titik Nol (153): Keresahan yang Terpendam

Kompas.com - 05/03/2009, 07:45 WIB
[Tayang:  Senin - Jumat]

 

Di balik terali besi pintu gerbang penjara kota Gilgit, saya berjumpa dengan kedua gadis Indonesia yang terpenjara. Dua gadis itu bertubuh pendek. Berkaus lengan panjang dan mengenakan celana training. Warna kerudung mereka mencolok, menyembulkan rambut hitam di dahi.

          “Mas dari Indonesia ya?” sapa gadis kedua yang baru datang. Suaranya lembut. Ramah sekali. “Sendirian ke sini? Kenapa ke sini?”

Saya bercerita tentang Rajja Sadafar dari kantor District Commissioner di Gilgit. Si gadis mengangguk-angguk, mengucapkan terima kasih.

Gadis yang satu lagi, yang semula berteriak-teriak mengusir saya, kini datang mendekat dan bergabung dalam percakapan. Tetapi, belum sempat kami bercakap-cakap banyak, dan masih cuma taraf basa-basi, tiba-tiba terdengar suara menggelegar.

          “Jao!Tum jao! Pergi! Pergi kamu!” Seorang sipir berlari sambil membentak, membuat gerakan seperti mengusir ayam.

Tak pernah saya diperlakukan seperti ini selama berada di Pakistan, yang orang-orangnya ramah dan lembut.

          “Jao!” teriaknya lagi. Kini sudah hampir menyeret saya menjauh.
Di kejauhan, Mariam dan Christina sayup-sayup memandang. Saya tak tahu apa yang mereka pikirkan.

Pertemuan ini sangat mengecewakan. Sudah sekian lama saya memimpikan untuk bertemu dengan kedua gadis ini. Sebenarnya saya sudah mendengar kisah mereka sejak dua bulan silam, dari gosip-gosip yang beredar di Gilgit. Adalah Rajja Sadafar yang membuat saya membulatkan tekad untuk bertemu dengan mereka.

Tetapi pertemuan ini malah membuat luka di hati. Wajah dua orang gadis yang tak berdaya di penjara terpencil Pakistan terus terngiang-ngiang. Tak berdaya, tak lagi menggantung mimpi. Mereka sendirian di dalam penjara yang hanya diisi narapidana lelaki, kebanyakan jago berkelahi. Konon masih ada seorang narapidana perempuan satu lagi, dari Karimabad, yang juga dipenjara di sini karena hubungan di luar nikah.

Memori saya juga selalu berkutat pada sipir penjara yang galaknya seperti menganggap saya juga tahanan. Keberingasannya membuat saya kapok untuk kembali berkunjung ke penjara itu.

          “Kamu kejam,” kata Mirza, keesokan paginya. Mirza adalah seorang pemuda dari Chilas yang pernah dipenjara karena berkelahi, juga kenal dekat dengan Maryam dan Christina. “Kamu hanya menyebar benih harapan dalam hati mereka, dan ketika mereka mulai menantikanmu, kamu meninggalkan mereka begitu saja!”

Saya bercerita tentang sipir penjara yang tidak bersahabat. “Mana ada sipir yang bersahabat?! Lagi pula siapa suruh kamu berbahasa Urdu? Kamu malah dicurigai sekongkolan penjahat, apalagi berasal dari negara yang sama dan sudah paham betul seluk-beluk Pakistan!”

Mirza datang hendak membawa saya bersamanya menjenguk Maryam dan Christina. Ia sendiri baru berjumpa dengan kedua gadis itu di penjara pagi ini, dan dari mereka ia mendengar tentang kunjungan saya. “Christina bilang kamu good boy, dan Maryam bilang, ‘he is a nice kid’”.

Saya masih bergeming.

          “Tega sekali kamu…,” lanjut Mirza, “kamu sudah menabur secuil impian di tengah kesepian hidup mereka. Sekarang kamu pergi begitu saja? Kamu enak, tinggal naik bus, sudah pergi ratusan kilometer. Sedangkan mereka, terkurung di sini, di Gilgit yang terpencil, tak ada orang yang mau peduli.”

Saya sudah membulatkan tekad untuk pergi ke Muzaffarabad hari ini, di mana setumpuk pekerjaan di daerah gempa sudah menunggu. Saya tidak bisa tinggal lebih lama lagi di kota ini.

Mirza sangat kecewa. Dia pergi setelah tak berhasil membujuk saya.

Bus malam meninggalkan Gilgit. Saya terguncang-guncang melintasi jalan gunung yang bergerunjal. Dalam kegelapan, “Kupu-kupu Malam” Ebiet G Ade mengalun merdu dari MP3 portabel, menaburkan rindu dan resah.

Setiap waktu engkau tersenyum
Sudut matamu memancarkan rasa
Keresahan yang terbenam
Kerinduan yang tertahan
Duka dalam yang tersembunyi
Jauh di lubuk hati

Bayang-bayang wajah tak berdaya Maryam dan Christina muncul lagi dalam benak. Omongan Mirza yang tajam dan langsung menohok, terus diputar ulang dalam pikiran. Mirza mungkin benar, saya memang kejam.

Di dalam kegelapan bus malam yang penuh sesak ini, pipi saya basah oleh air mata.

(Bersambung)

_______________
Ayo ngobrol langsung dengan Agustinus  Wibowo di Kompas Forum. Buruan registrasi!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau