BANDAR LAMPUNG, KAMIS — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui, meski berbagai upaya dan kebijakan telah dilakukan untuk mengurangi dampak krisis, perekonomian Indonesia masih akan mengalami tekanan yang berat.
"Resesi ekonomi dunia belum berhenti. Meski kita sudah bisa mengelolanya, saya harus jujur kepada rakyat bahwa resesi global masih memberikan tekanan yang berat," kata Presiden saat membuka Sidang Tanwir Muhammadiyah Kedua di Bandar Lampung, Kamis (5/3).
Presiden menjelaskan, pemerintah sudah bekerja keras untuk mengantisipasi dampak krisis ini sejak enam bulan lalu agar tidak terulang kejadian krisis ekonomi 1997 yang lambat diantisipasi dan mengakibatkan kehancuran ekonomi nasional. "Pemerintah, perbankan, dan ekonom telah berkumpul, bekerja siang malam untuk mengurangi dampak krisis yang sekarang belum usai. Oleh karena itu, kita lakukan yang bisa kita lakukan agar masalah ini bisa diatasi," katanya.
Presiden menilai, krisis keuangan global terjadi karena praktik-praktik transaksi keuangan yang terlalu rakus yang hanya mengutamakan keuntungan sesaat dan tidak memikirkan aspek-aspek kemanusiaan. "Global governance juga tidak bisa menjamah persoalan keuangan masa kini yang melengkapi deretan persoalan yang membuat sistem perekonomian dunia rapuh," katanya.
Menurut Presiden, hal ini tidak bisa dibiarkan sehingga Pemerintah harus menyelamatkan perekonomian nasional dan kemudian ikut dalam penataan kembali perekonomian dunia yang benar. Belajar dari krisis keuangan global ini, perekonomian Indonesia ke depan harus memadukan pendekatan sumber daya alam, ilmu pengetahuan, dan sumber daya budaya yang semuanya diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan semua rakyat.
Sebelumnya, rapat dewan Gubernur BI, Rabu (4/3), menyebutkan, perekonomian nasional masih akan melambat lebih dalam sebagai akibat perkembangan ekonomi global yang menunjukkan pelambatan lebih dalam. Perlambatan ekonomi nasional tercermin dari penurunan nilai ekspor dan timbulnya sentimen negatif terhadap pasar keuangan domestik yang memengaruhi kinerja perekonomian secara keseluruhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang