Presiden: Ekonomi Indonesia Masih Akan Tertekan Krisis

Kompas.com - 05/03/2009, 13:17 WIB

BANDAR LAMPUNG, KAMIS — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui, meski berbagai upaya dan kebijakan telah dilakukan untuk mengurangi dampak krisis, perekonomian Indonesia masih akan mengalami tekanan yang berat.

"Resesi ekonomi dunia belum berhenti. Meski kita sudah bisa mengelolanya, saya harus jujur kepada rakyat bahwa resesi global masih memberikan tekanan yang berat," kata Presiden saat membuka Sidang Tanwir Muhammadiyah Kedua di Bandar Lampung, Kamis (5/3).

Presiden menjelaskan, pemerintah sudah bekerja keras untuk mengantisipasi dampak krisis ini sejak enam bulan lalu agar tidak terulang kejadian krisis ekonomi 1997 yang lambat diantisipasi dan mengakibatkan kehancuran ekonomi nasional. "Pemerintah, perbankan, dan ekonom telah berkumpul, bekerja siang malam untuk mengurangi dampak krisis yang sekarang belum usai. Oleh karena itu, kita lakukan yang bisa kita lakukan agar masalah ini bisa diatasi," katanya.

Presiden menilai, krisis keuangan global terjadi karena praktik-praktik transaksi keuangan yang terlalu rakus yang hanya mengutamakan keuntungan sesaat dan tidak memikirkan aspek-aspek kemanusiaan. "Global governance juga tidak bisa menjamah persoalan keuangan masa kini yang melengkapi deretan persoalan yang membuat sistem perekonomian dunia rapuh," katanya.

Menurut Presiden, hal ini tidak bisa dibiarkan sehingga Pemerintah harus menyelamatkan perekonomian nasional dan kemudian ikut dalam penataan kembali perekonomian dunia yang benar. Belajar dari krisis keuangan global ini, perekonomian Indonesia ke depan harus memadukan pendekatan sumber daya alam, ilmu pengetahuan, dan sumber daya budaya yang semuanya diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan semua rakyat.

Sebelumnya, rapat dewan Gubernur BI, Rabu (4/3), menyebutkan, perekonomian nasional masih akan melambat lebih dalam sebagai akibat perkembangan ekonomi global yang menunjukkan pelambatan lebih dalam. Perlambatan ekonomi nasional tercermin dari penurunan nilai ekspor dan timbulnya sentimen negatif terhadap pasar keuangan domestik yang memengaruhi kinerja perekonomian secara keseluruhan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau