Habitat Buruk, Harimau Jadi Agresif

Kompas.com - 06/03/2009, 10:45 WIB

JAKARTA, JUMAT - Merosotnya kualitas habitat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) memicu agresivitas kucing besar itu, termasuk memangsa manusia. Kualitas habitat terkait dengan kondisi minimal yang dibutuhkan satwa untuk berkembang biak secara alami.

Kualitas habitat itu di antaranya biomassa daya dukung pangan di alam dan ketersediaan tutupan lahan yang nyaman. ”Bukan hanya faktor menyempitnya habitat alami,” kata mantan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Departemen Kehutanan Widodo Sukohadi Ramono dihubungi di Bogor, Jawa Barat, Kamis (5/3).

Hingga kemarin dilaporkan sembilan orang telah dimangsa harimau sumatera ketika berada di dalam hutan. Kejadian itu terjadi hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan.

Menurut mantan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Lampung itu, kejadian serupa telah terjadi puluhan tahun silam ketika ia masih bertugas di Sumatera bagian selatan. Namun, tidak dalam kurun waktu sesingkat kali ini.

”Pasti ada banyak faktor penyebab, bukan tunggal,” katanya. Meskipun masih butuh pembuktian, ia menduga pelakunya harimau yang sebelumnya pernah memangsa manusia.

Ketua Forum Harimau Hariyo T Wibisono menyoroti faktor berkurangnya mangsa utama harimau sumatera di alam. Rusa banyak diburu untuk dikonsumsi dagingnya, sedangkan babi hutan diburu karena alasan hama tanaman penduduk.

Di beberapa lokasi, babi hutan memakan padi, umbi-umbian, dan jagung, bahkan mengganggu kebun kelapa sawit. ”Ada pemerintah daerah yang sengaja menyewa pemburu profesional untuk menembak babi,” katanya. Tak sedikit warga yang menggunakan senjata rakitan untuk berburu, khususnya di Sumatera bagian selatan.

Yang lain memasang bentangan jaring dan melepaskan anjing pemburu mengejar babi hutan, dewasa atau anakan, masuk ke jaring. ”Itu umum di kawasan yang jadi kantong harimau sumatera,” kata Hariyo yang tesisnya membahas populasi harimau sumatera di Bukit Barisan Selatan dan penanganan kerusakan tanaman oleh babi.

Widodo menambahkan, faktor berkurangnya pangan di alam memengaruhi kuantitas kunjungan harimau di kawasan penduduk. Faktor lain adalah persaingan internal antara harimau muda dan tua.

”Saya menduga harimau tualah yang sering menyerang manusia. Yang tua tak selincah dulu lagi ketika mengejar mangsa,” katanya. Pendapat lain adalah harimau muda yang sering menyerang karena alasan mencari daerah kekuasaan.

Jangan asal menduga

Keduanya menyatakan, harimau yang ditangkap di kawasan yang pernah ada korban diterkam belum tentu harimau yang sama. Karakter harimau yang dinamis dengan daya jelajah dewasa 25 kilometer persegi menjadi pertimbangannya.

Beberapa kali terjadi harimau tertangkap, tetapi masih ada korban. "Sebenarnya bisa dilihat dari fesesnya, apakah pernah memangsa manusia,” kata Widodo.

Sembilan orang diterkam dalam kurun waktu lima pekan terbilang sering. Ini sekaligus menegaskan meningkatnya kuantitas ancaman manusia terhadap hidupan liar. (GSA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau