Hillary Berangkat, Gaza Disikat

Kompas.com - 06/03/2009, 14:26 WIB

KOTA GAZA, KAMIS - Serangan-serangan udara Israel terhadap Gaza yang dikuasai Hamas menewaskan empat pejuang Palestina, hanya beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton mengakhiri kunjungan pertamanya ke Timur Tengah. Kala itu, Hillary berikrar akan meniupkan udara kehidupan dalam proses perdamaian, Kamis (5/3).
  
Satu serangan udara di kamp pengungsi Maghazi di Gaza tengah, Kamis, menewaskan tiga pejuang Palestina dan mencederai dua pejuang lainnya, kata petugas medis.
  
Seorang juru bicara militer mengatakan, serangan itu ditargetkan kepada satu kelompok yang telah menembaki satu instalasi anti tank pada kesatuan militer Israel tersebut, di sisi Israel dari perbatasan mereka.
  
Pada Rabu malam, suatu serangan udara menewaskan seorang komandan senior militer Jihad Islam, pada saat dia berkendaraan melewati kamp pengungsi Jabaliya di dekat Kota Gaza.
  
Tentara Israel melancarkan empat serangan terhadap Jalur Gaza, Kamis malam, sebagai respon atas tembakan-tembakan roket dan mortir ke wilayahnya, kata seorang juru bicara militer. "Pesawat tempur kami menghantam empat terowongan yang digali di bawah perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir, dekat Rafah," katanya.
     
Dalam pernyataan yang disiarkan di Gaza, Brigade Al-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina, Kamis mengaku bertanggung-jawab atas 10 serangan roket ke wilayah Israel itu. Tidak ada korban dilaporkan dari serangan-serangan roket ke Israel itu, menurut militer Israel dan para petugas medis.
  
Ini adalah pukulan terakhir terhadap gencatan senjata yang rawan yang diumumkan Hamas dan Israel 18 Januari, untuk menghentikan bencana perang 22 hari yang dikobarkan Israel terhadap jalur pantai kecil milik Palestina tersebut.
  
Mesir yang telah memfasilitasi perundingan-perundingan itu  berusaha menjadikan gencatan senjata tersebut menjadi gencatan senjata yang tahan lama. Namun, sejauh ini, Mesir gagal untuk membuat satu kesepakatan.
  
Para pemimpin Israel telah berulang-kali mengingatkan akan melakukan tindakan tegas dalam upayanya menghentikan serangan roket dari Jalur Gaza, setelah Israel mundur pada 2005 usai pendudukannya selama 38 tahun.
  
Aksi kekerasan terakhir meletus hanya beberapa jam setelah Hillary meninggalkan Israel Rabu, sesudah dia menyelesaikan kunjungan pertamanya ke Timur Tengah sejak dia dipilih sebagai menlu AS oleh Presiden Barack Obama. "AS berusaha mempercepat kondisi agar negara Palestina bisa diwujudkan sepenuhnya," kata Hillary setelah melakukan perundingan dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas di Tepi Barat yang diduduki.

"Kapan saatnya adalah hal terpenting," imbuhnya.
  
Hillary menyerukan kepada Israel agar mengizinkan lebih banyak misi bantuan masuk ke Gaza, yang menderita berat akibat perang yang dilancarkan Israel pada 27 Desember. Perang tersebut merenggut lebih dari 1.300 jiwa rakyat Palestina dan 13 warga Israel.
  
Israel menutup wilayah yang miskin itu secara total, kecuali  barang-barang bantuan kemanusiaan pada Juni 2007, ketika Hamas, kelompok pejuang Palestina yang bersumpah akan menghancurkan Israel, mengambil-alih kekuasaan di wilayah tersebut setelah menyingkirkan pasukan Fatah yang setia kepada Presiden Abbas.
  
"Kami sangat prihatin atas penutupan pintu-pintu penyeberangan perbatasan itu. Kami ingin agar bantuan kemanusiaan bisa leluasa memasuki Gaza untuk mengurangi penderitaan rakyat di Gaza," kata Hillary.
  
Gaza adalah salah satu bagian dunia yang berpenduduk sangat padat. Lebih dari setengah juta dari 1,4 juta penduduknya berumur di bawah 18 tahun, dan mayoritas penduduk tergantung pada bantuan asing.
 
Hillary mengecam rencana-rencana Israel untuk meratakan rumah-rumah di Yerusalem timur, yang dibangun tanpa izin pembangunan. Izin macam itu menyulitkan bagi penduduk Palestina di kota itu.
  
"Terus terang tindakan semacam ini tidak membantu dan tidak memenuhi kewajiban sesuai yang diinginkan peta-jalan," kata Hillary, yang merujuk pada cetak-biru bagi perundingan-perundingan perdamaian yang disepakati oleh masyarakat internasional pada 2003.
  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau