Lima Balita Alami Gizi Buruk Kronis di Malang

Kompas.com - 06/03/2009, 19:14 WIB

MALANG, JUMAT — Selama kurun waktu Januari-Februari 2009 lima anak di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Malang, Jawa Timur, menderita gizi buruk kronis jenis marasmus, kwashiorkor, dan marasmus kwashiorkor.
      
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dr Agus Wahyu Arifin, Jumat (6/3), menyebutkan, dua balita berasal dari Kecamatan Pujon, dua dari Kecamatan Ngajum dan satu lagi dari Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

"Gizi buruk kronis ini rata-rata diikuti penyakit penyerta bawaan dan saat ini mereka dalam pengawasan ketat Dinkes, termasuk melalui intervensi asupan nutrisi dan gizi selama 90 hari berturut-turut. Biaya perawatan di rumah sakit ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah," katanya.

Dari lima balita penderita gizi buruk kronis tersebut, tiga di antaranya sudah mulai membaik, sedangkan penanganan dua lainnya cukup sulit karena disertai penyakit bawaan dan penyakit lainnya seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), tipus, dan TBC.

Balita penderita gizi buruk kronis tersebut masing-masing Dimas Adi Maulana (12 bulan) dan Al Azam (26 bulan) dari Kecamatan Pujon, dan Stevan (8 bulan) asal Sumbermanjing Wetan, sementara nama dua lainnya dari Kecamatan Ngajum belum terdata.

Menyinggung anggaran penanganan gizi buruk di daerah itu, Agus menyatakan cukup memadai karena dana penanganannya tidak hanya dari Dinkes, tetapi juga dari lintas satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkup Pemkab Malang, alokasi dana desa (ADD) serta partisipasi masyarakat.

Mantan Direktur RSUD Kanjuruhan Kepanjen itu mengatakan, kasus gizi buruk di daerahnya tergolong kecil jika dibanding jumlah penduduk yang mencapai 2,4 juta jiwa.
      
"Kunci agar balita tidak sampai menderita gizi buruk, orangtua harus rajin membawa balitanya ke posyandu, karena dari posyandu itu kesehatan dan pertumbuhan bayi benar-benar dikontrol," katanya.

Pada tahun 2008 jumlah penderita gizi buruk kronis di Kabupaten Malang mencapai 14 balita dan empat di antaranya meninggal dunia. Sedangkan penderita gizi kurang pada tahun 2008 mencapai 300 balita dan tahun 2007 sebanyak 113 balita.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau