Kerja Sama Budaya Juga Sangat Penting

Kompas.com - 07/03/2009, 06:45 WIB

JAKARTA, JUMAT - Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak menegaskan, kerja sama budaya antara Korea dan Indonesia tak kalah pentingnya dengan kerja sama ekonomi, terutama berkaitan dengan upaya meningkatkan saling pengertian antara kedua negara.

Presiden Lee menegaskan ini dalam jawaban tertulis kepada Kompas yang diterima pada hari Kamis. Lee sejak hari Jumat (6/3) berada di Jakarta untuk kunjungan selama dua hari guna mempererat kerja sama ekonomi dan budaya kedua negara.

Berikut bagian dari wawancara tertulis yang sebagian sudah dimuat dalam Kompas edisi Jumat 6 Maret.

Kunjungan Bapak akan memacu ketertarikan tentang budaya Korea?

Sehubungan dengan meningkatnya ketertarikan akan budaya korea, saya berencana memperbanyak pusat kebudayaan korea. Untuk Indonesia, Pemerintah Korea sedang mendorong membangun pusat kebudayaan Korea di Jakarta pada tahun 2011.

Kerja sama budaya tidak kalah pentingnya dengan kerja sama ekonomi. Saya sangat tertarik pada keanekaragaman budaya Indonesia. Saya yakin pertukaran budaya antara kedua negara akan meningkatkan pemahaman dan kepercayaan timbal balik antara rakyat Korea dan Indonesia.

Pada kesempatan kunjungan kali ini, saya berharap pertukaran kesenian dan kebudayaan, wisata, olahraga, pemuda antara kedua negara dapat meningkat. Saya membicarakan soal ini dalam pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Bapak baru menjabat sebagai Presiden selama satu tahun. Bagaimana kinerja dan visi Bapak?

Dalam pemilihan presiden tahun 2007, saya terpilih sebagai Presiden Republik Korea dengan dukungan yang luar biasa. Selama satu tahun saya bekerja keras untuk membangun negara ini menjadi ”negara maju kelas pertama”. Bagi saya, krisis keuangan global yang saat ini terjadi bukan halangan, tetapi tantangan untuk mengujudkan janji saya kepada rakyat Korea.

Walaupun begitu, pemerintah Korea tetap mengambil berbagai tindakan untuk menanggulangi krisis dan menyiapkan berbagai program pascakrisis ini. Khususnya, saya berupaya keras untuk memajukan bidang sektor publik, reformasi peraturan dan sistem pendidikan, sehingga dapat menyelesaikan 91 persen kinerja pemerintah yang telah direncanakan sejak tahun 2008. Saya telah mengajukan 569 rancangan undang-undang dan menyelesaikan 1.202 reformasi peraturan.

Karena dampak krisis global, perekonomian Korea diperkirakan akan mengalami penurunan. Untuk itu, saya harus segera mendorong pemulihan ekonomi Korea dan melindungi masyarakat berpenghasilan rendah.

krisis ini telah mengurangi lapangan kerja dan memengaruhi kehidupan masyarakat berpenghasilan rendah. Oleh karenanya, saya berusaha keras untuk melakukan berbagai program guna menanggulangi masalah ini.

Menurut IMF pada Januari 2009, Ekonomi Korea akan pulih dari minus 4 persen tahun ini menjadi 4,2 persen tahun depan dan merupakan pemulihan cepat dibandingkan dengan negara lain. Saya yakin ekonomi Korea akan membaik.

Korea dan Indonesia menderita krisis ekonomi global. Bagaimana Korea mengatasinya?

Krisis keuangan telah melanda ekonomi riil. Dalam situasi ini, saya berpikir kerja sama internasional sangat diperlukan untuk memulihkan ekonomi yang sakit. Karena krisis keuangan, likuiditas valuta asing mengancam negara-negara berkembang. Menurut saya, segenap negara harus memperbesar pengeluaran demi pemulihan ekonomi global.

Pemerintah Korea sedang melaksanakan paket stimulus ekonomi berupa pembebasan pajak dan peningkatan anggaran belanja negara dengan total dana 40,7 miliar dollar AS untuk mendukung masyarakat golongan rendah dan menyokong pertumbuhan ekonomi. Angka tersebut hampir 2,6 persen dari PDB. Kebijakan ini merupakan kebijakan yang berani dan antisipatif.(/ton/mon/ppg)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau